Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Siapa Sammy Basso? Pejuang Inspiratif Melawan Progeria dari Kelahiran Hingga Akhir Hidupnya

Redaksi Radar Nganjuk • Rabu, 9 Oktober 2024 | 20:33 WIB
Photo
Photo

NGANJUK, JP Radar Nganjuk - Sammy Basso penyintas progeria atau sindrom penuaan dini menjadi pembicaraan warganet setelah meninggal dunia pada Selasa (8/10).

Progeria adalah penyakit yang sangat langka, mempengaruhi satu dari setiap 8 juta kelahiran.

Sammy meninggal pada usia 28 tahun, menjadikannya salah satu penderita progeria yang bertahan paling lama, padahal harapan hidup untuk mereka umumnya hanya sekitar 13-14 tahun, meski ada beberapa kasus yang mencapai 20 tahun.

Kabar meninggalnya Sammy Basso diumumkan oleh Asosiasi Progeria Italia, yang ia dirikan bersama orangtuanya, melalui akun media sosial lembaga tersebut.

"Hari ini cahaya kami, pemandu kami, telah padam. Terima kasih Sammy karena telah menjadikan kami bagian dari kehidupan yang luar biasa ini," tulis asosiasi itu lewat akun Instagram-nya.

Siapa Sammy Basso

Sammy lahir pada tahun 1995 di Scio, Italia utara, dan didiagnosis dengan sindrom Hutchinson-Gilford pada usia dua tahun.

Penyakit ini membuat penderitanya mengalami penuaan dini, dengan harapan hidup sekitar 13,5 tahun tanpa pengobatan.

Klinik Cleveland mencatat rata-rata harapan hidup penderita progeria adalah 14,5 tahun, meskipun beberapa dapat mencapai awal 20-an. Obat lonafarnib terbukti memperlambat perkembangan penyakit ini.

Sammy menghadapi tantangan besar, termasuk gagal jantung parah pada 2019, yang menyebabkan stenosis kalsifikasi katup aorta.

Dia menjadi orang pertama dengan kondisi tersebut yang berhasil menjalani prosedur ini, berkat tim dari Rumah Sakit San Camillo di Roma, yang dipimpin oleh ahli bedah jantung Francesco Musumeci.

Sammy Basso juga dikenal sebagai ilmuwan dan pendidik yang mengabdikan hidupnya untuk penelitian penyakit progeria.

Ia meraih gelar doktor dalam biologi dari Universitas Padua, Italia, dan berperan dalam pengembangan obat pertama yang dapat memperlambat gejala progeria, memberikan harapan bagi banyak penderitanya.

 

Pada tahun 2005, Sammy bersama keluarganya mendirikan Asosiasi Progeria Italia untuk meningkatkan kesadaran dan mendukung penelitian.

Ia juga tampil dalam dokumenter National Geographic, *Sammy's Journey*, yang menggambarkan perjalanannya di Route 66 bersama keluarga dan teman-teman.

Sammy sering berbicara di berbagai acara, menyampaikan pesan bahwa kebahagiaan dan makna hidup tetap mungkin meskipun menghadapi keterbatasan fisik.

Dalam bukunya, *Antenorea*, ia menegaskan bahwa progeria tidak menghalangi hasratnya di bidang biologi. Sepanjang hidupnya,

Sammy menerima banyak penghargaan atas kontribusinya di sains dan kemanusiaan, dikenal sebagai contoh bahwa penderitaan fisik tidak menghalangi pencapaian.

Ia dikenang sebagai simbol harapan yang mengubah penderitaannya menjadi kekuatan untuk membantu orang lain, meninggalkan warisan yang menginspirasi ribuan orang di seluruh dunia.

Editor : Redaksi Radar Nganjuk