JP Radar Nganjuk - Kabar mengejutkan datang dari Porong, Sidoarjo, Jawa Timur, setelah hampir 19 tahun lamanya semburan lumpur Lapindo akhirnya berhenti.
Peristiwa ini bermula pada 29 Mei 2006, saat pengeboran sumur Banjar Panji-1 oleh PT Lapindo Brantas yang diduga menyebabkan ledakan gas di bawah permukaan bumi, mengarah pada semburan lumpur panas yang tak terkendali.
Lumpur yang sempat mengalir sangat deras ini menyebabkan kerusakan yang luar biasa, merendam rumah-rumah, fasilitas umum, jalan tol, dan pabrik, serta mengubah kehidupan sekitar 25.000 orang dari delapan desa yang terdampak.
Pakar geologi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Dr. Ir. Amien Widodo M.Si, menjelaskan bahwa berhentinya semburan lumpur disebabkan oleh berkurangnya gas yang mengangkat lumpur ke permukaan.
Ketika gas yang mengalir di bawah tanah sudah habis atau berkurang, maka proses semburan lumpur pun akan berhenti.
Hal ini memberikan gambaran bahwa aktivitas geotermal di bawah permukaan bumi memang masih ada, meskipun dengan intensitas yang jauh lebih rendah.
Meskipun semburan lumpur utama telah terhenti, beberapa laporan menyebutkan masih adanya asap putih yang keluar dari lokasi semburan, yang menunjukkan adanya aktivitas geotermal yang terus berlangsung meskipun lebih kecil.
Dengan berakhirnya semburan ini, banyak pihak optimis bahwa ini adalah tanda positif bahwa bencana ini akan berakhir.
Namun, para pakar juga mengingatkan agar masyarakat tidak terburu-buru mengambil kesimpulan, karena kondisi geologi di bawah permukaan bumi yang masih belum sepenuhnya dipahami.
Penulis: Effa Desiana Hidayah
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira