JP Radar Nganjuk – Vape saat ini tengah ramai dikalangan masyarakat Indonesia. Tidak hanya para muda mudi saja, bahkan kalangan tua juga turut ikut menggunakan rokok elektrik ini.
Digadang-gadang sebagai rokok dengan versi yang lebih sehat, banyak anak muda yang kini juga beralih untuk menghisap vape daripada rokok.
Karena, mereka menilai cukup sekali mengeluarkan uang dalam jumlah yang cukup besar namun setelahnya tidak perlu mengeluarkan uang lagi dalam kurun waktu yang cukup lama.
Ada vape, ada juga e-liquid atau cairan yang biasanya diteteskan kedalam vape agar menghasilkan kepulan asap setiap kali dihisap oleh pemiliknya. E-liquid hadir dengan banyak varian rasa dan juga kadar nikotin yang dapat disesuaikan dengan keinginan penggunanya.
Namun, bahaya dari vape juga turut mengintai. Vape memungkinkan penggunananya untuk terus-menerus menghisapnya tanpa berhenti.
Cukup dengan beberapa tetes liquid, banyak kepulan asap yang akan tercipta setiap kali dihisap oleh penggunanya.
Jika dilakukan secara terus menerus dalam waktu lama, maka para penggunanya bisa berakhir seperti remaja asal Amerika Serikat ini.
Remaja perempuan bernama Brianne Cullen (17) asal Nevada, Amerika Serikat di diagnoas oleh dokter mengidap penyait paru-paru kekal setelah menghisap rokok elektronik atau vape selama tiga tahun lamanya tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.
Brianne telah menghisap rokok elektrik tersebut sejak berusia 14 tahun. Brianne membeli vape tersebut secara diam-diam setiap bulannya selama tiga tahun.
Sang ibu, Christie Martin, baru mengetahui bahwa anakanya menghisap vape selama tiga tahun dan mengidap penyakit paru-paru permanen setelah ia menerima panggilan dari Brianne yang berulang kali mengatakan kesulitan untuk bernafas.
Pada saat itu, brianne tengah mengikuti latihan pemandu sorak. Ketika berlatih, tiba-tiba saja brianne merasakan sesak dan kesulitan untuk bernafas. Ia pun segera menghubungi ibunya.
Setelahnya, brianne dilarikan ke Rumah Sakit St. Rose Dominican dan segera mendapatkan pertolongan dari petugas kesehatan. Brianne diberi oksigen beserta obat-obatan.
Brianne pun diperiksa lebih lanjut oleh dokter untuk mengetahui penyebab mengapa ia kesulitan untuk bernafas. Dari pemeriksaan yang dilakukan, dokter mendiagnosa bahwa brianne menderita bronkiolitis obliterans, atau lebih dikenal sebagai ‘Popcorn Lung’.
Popcorn lung atau paru-pau popcorn adalah sejenis penyakit paru-paru yang disebabkan oleh pembentukan jaringan parut di saluran udara, yang secara permanen menghalangi pernapasan.
Meskipun telah mendapatkan perawatan, dokter yang merawat brianne mengatakan bahwa penyakit paru-paru brianne bersifat permanen dan tidak dapat disembuhkan.
Penyakit tersebut juga dapat menyebabkan komplikasi lain yang dapat mengancam kesehatan seperti kanker.
Penulis: Nabila Syifa'ul Fuada Lii Dzikrilla
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira