JP Radar Nganjuk – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali membuat gebrakan di panggung ekonomi global.
Lewat kebijakan barunya, Trump menetapkan tarif impor hingga 245 persen untuk sejumlah produk asal China.
Langkah ini memicu ketegangan dagang dan kekhawatiran dari berbagai pihak, termasuk dari kalangan pelaku usaha dan pemerintahan China.
Kebijakan tersebut diumumkan awal April 2025 dan menjadi bagian dari program “Liberation Day” yang menargetkan pembenahan sektor industri dalam negeri AS.
Dalam skema barunya, semua negara dikenai tarif dasar 10 persen.
Namun khusus untuk China, tarif dinaikkan drastis hingga menyentuh 245 persen untuk produk-produk tertentu, terutama di sektor manufaktur dan teknologi.
Tak butuh waktu lama, China langsung merespons keras.
Kementerian Perdagangan China menyebut langkah Trump sebagai bentuk pelanggaran terhadap prinsip perdagangan internasional dan berjanji akan mengambil tindakan balasan.
Efek kebijakan ini tak hanya dirasakan oleh China.
Sejumlah merek besar dunia seperti Ralph Lauren, LVMH, dan Kering mengalami penurunan saham.
Industri fesyen global, yang banyak bergantung pada pasokan dari China, mulai khawatir terhadap gangguan distribusi dan kenaikan biaya produksi.
Meski begitu, Ralph Lauren tetap melangsungkan peragaan busana musim gugur 2025 di New York sebagai bentuk simbolik ketahanan industri.
Kebijakan tarif tinggi ini juga berdampak langsung pada konsumen dan pelaku UMKM di AS.
Harga barang impor dari China diprediksi naik, sementara pengusaha kecil terancam merugi karena ketergantungan terhadap bahan baku dari Tiongkok.
Sebagian di antaranya bahkan terpaksa menghentikan impor untuk menekan biaya.
Para analis memperingatkan bahwa langkah ini bisa memicu gejolak ekonomi yang lebih luas.
Selain meningkatkan tekanan pada rantai pasokan global, kebijakan ini juga memperdalam jurang konflik dagang antara dua raksasa ekonomi dunia.
Penulis: Effa Desiana Hidayah
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira