JP Radar Nganjuk – Saat ini, umat Katolik sedang mengalami kedukaan setelah kepergian dari pemimpin umat Katolik di seluruh dunia, Paus Fransiskus.
Umat Katolik saat ini sedang mengalami masa transisi yang penuh dengan ritual dan pengharapan. Kuris pemimpin umat aKatolik saat ini telah kosong.
Paus Fransiskus sendiri dinyatakan meninggal pada hari Senin (21/4) tepat sqatu hari seteleah paskah. Kematian Paus Fransiskus sendiri disebabkan oleh penyakit bronchitis dan pneumonia ganda.
Setelah kematian Paus Fransiskus diumumkan oleh Camerlengo, seluruh umat memulai rangkaian novemdiakes dengan Sembilan hari penuh doa.
Misa ini akan berlangsung selama Sembilan hari yang dimulai dari hari kematiannya, Senin 21 April 2025 sampai hari Rabu 29 April 2025.
Hal menariknya adalah, tempat pemakaman yang dipilih oleh Paus Fransiskus bukan di Vatikan, melainkan di Basilika Santa Maria Maggiore.
Pemilihan tempat pemakaman di Basilika Santa Maria Maggiore bukan tanpa alasan, Paus Fransiskus sendiri meminta dimakamkan di sana karena keinginannya sendiri.
Menurut informasi, Paus Franssiskus lebih memilih dimakamkan di Basilika Santa Maria Maggiore dikarenakan sebagfai sebuah simbol untuk leboh dekat dengan kaum marjinal dan pinggiran.
Basilika Santa Maria Maggiore adalah basilica tertua yang ada di Roma. Basilika ini dibangun untuk didedikasikan kepad Bunda Maria.
Bangunan ini dibangun sejak abad ke 5 dan merupakan simbol bahwa gereja memiliki sifat yang lembut, menggayomi dan kedekatan dengan umat kecil.
Sebagai informasi, bangunan ini terakhir kali digunakan lebih dari 350 tahun yang lalu. Tecatat sebanyak enam paus sebelumbya dimakamkan di sini yaitua Paus Honorius III, Paus Nicholas IV, Paus St. Pius V, Paus Sixtus V, Paus Clement VIII, dan Paus Clement IX.
Keputusan Paus Fransiskus yang ingin dimakamkan di luar Vatikan adalah keputusan yang sangat jarang terjadi. Kebanyakan Paus pendahulunya lebih memilih dimakamkan didalam vatikan.
Hal ini dikarenakan paus Fransiskus dikenal sebagai Paus yang reformis. Ia mendapatkan julukan dari “pinggiran” karena kedekatannya dengan orang orang tersebut.
Paus Fransiskus juga sering menyuarakan agar gereja keluar dari zona nyaman dan harus hadir ditengah tengah pergumulan dunia.
Prinsipnya tersebut cocok dengan keputusannya untuk dimakamkan di Santa Maria Maggiore agar bisa dekat dengan kaum kaum terpinggir.
Penulis: Joenaidi Zidane, Mahasiswa Magang Politeknik negeri Madiun (PNM)
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira