JP Radar Nganjuk- Setelah wafatnya Paus Fransiskus pada Senin kemarin (21/4), Gereja Katolik Roma memasuki masa sede vacante yang berarti periode ketika Tahta Suci kosong.
Situasi ini menandai dimulainya proses konklaf atau tahapan pemilihan Paus baru yang berlangsung tertutup dan sakral di Kapel Sistina, Vatikan.
Konklaf diikuti para kardinal berusia di bawah 80 tahun. Dalam suasana khidmat, mereka memberikan suara setelah berdoa di hadapan lukisan “Penghakiman Terakhir” karya Michelangelo.
Untuk bisa terpilih, seorang kandidat harus memperoleh dua pertiga suara dari seluruh kardinal yang hadir.
Jika menyatakan menerima, ia resmi menjadi Uskup Roma sekaligus pemimpin tertinggi umat Katolik dunia.
Nama Paus baru diumumkan dengan seruan “Habemus Papam!” dari balkon Basilika Santo Petrus.
Sebelum itu, Gereja menjalani masa berkabung selama sembilan hari.
Dalam periode ini, para kardinal menggelar kongregasi umum untuk mempersiapkan konklaf dan mendiskusikan tantangan Gereja.
Pemilihan sendiri dijadwalkan dimulai sekitar dua pekan setelah wafatnya Paus, memberi waktu bagi para kardinal untuk tiba dari berbagai penjuru dunia.
Sejumlah nama mencuat sebagai kandidat kuat.
Di antaranya Kardinal Pietro Parolin dari Italia yang dikenal sebagai diplomat ulung, serta Kardinal Luis Antonio Tagle dari Filipina yang populer berkat pandangannya yang progresif.
Nama-nama dari jalur konservatif seperti Kardinal Peter Erdö (Hungaria) dan Kardinal Wim Eijk (Belanda) juga disebut-sebut sebagai pesaing serius.
Paus Fransiskus dikenal sebagai pemimpin yang rendah hati dan dekat dengan isu-isu kemanusiaan seperti perubahan iklim dan kesenjangan sosial.
Paus berikutnya diharapkan dapat melanjutkan semangat tersebut sekaligus membawa Gereja menghadapi tantangan global dengan bijak dan terbuka.
Penulis: Effa Desiana Hidayah
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira