Jokowi dan Rombongan Berangkat ke Vatikan, Membawa Pesan Pribadi dari Prabowo
Elna Malika• Jumat, 25 April 2025 | 22:11 WIB
Jokowi dan Rombongan Berangkat ke Vatikan, Membawa Pesan Pribadi dari Prabowo
JP Radar Nganjuk - Pada Jumat, 25 April 2025, mantan Presiden ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo (Jokowi), bersama delegasi resmi Indonesia, telah bertolak menuju Vatikan untuk menghadiri pemakaman Paus Fransiskus, yang dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 26 April 2025, di Basilika Santo Petrus.
Rombongan ini diutus langsung oleh Presiden Prabowo Subianto sebagai perwakilan pemerintah Indonesia untuk menyampaikan penghormatan terakhir kepada pemimpin umat Katolik sedunia yang wafat pada 21 April 2025 di Casa Santa Marta, Vatikan.
Selain Jokowi, delegasi terdiri dari Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai, Wakil Menteri Keuangan Thomas Djiwandono, dan mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan bahwa rombongan ini membawa surat pribadi dari Presiden Prabowo yang ditujukan kepada pemerintah Vatikan.
Surat tersebut berisi ucapan belasungkawa atas wafatnya Paus Fransiskus serta pesan agar nilai-nilai kemanusiaan, seperti keberpihakan kepada kaum miskin dan tertindas, yang selama ini dijunjung oleh Paus, dapat terus dilanjutkan.
“Nilai-nilai kemanusiaan yang ditinggalkan Paus Fransiskus wajib kita teruskan,” ujar Prasetyo, mengutip harapan Prabowo.
Keberangkatan Jokowi dan rombongan ini mencerminkan komitmen Indonesia untuk menjaga hubungan diplomatik yang erat dengan Vatikan, sekaligus menghormati peran Paus Fransiskus sebagai tokoh perdamaian global.
Sebelum berangkat, Jokowi sempat transit di Qatar untuk melanjutkan perjalanan ke Roma, Italia, tempat Vatikan berada.
Prosesi pemakaman Paus Fransiskus diperkirakan akan dihadiri oleh para pemimpin dunia dan ribuan umat Katolik, menjadikannya momen bersejarah yang diselenggarakan di alun-alun Basilika Santo Petrus.
Namun, keputusan Prabowo mengutus Jokowi sebagai bagian dari delegasi ini memicu beragam tanggapan di dalam negeri.
Sejumlah pihak, seperti politikus PDIP Aria Bima, mempertanyakan mengapa Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka tidak diutus sebagai perwakilan resmi, mengingat posisinya sebagai pejabat aktif.
“Kenapa bukan Wakil Presiden yang berangkat?” tanya Aria dalam pernyataannya di Kompleks Parlemen, Jakarta, pada 24 April 2025.
Meski demikian, Wakil Presiden Ma’ruf Amin membela keputusan tersebut, menegaskan bahwa Presiden berhak menunjuk siapa saja sebagai utusan.
“Saya kira hak presiden untuk menunjuk siapa saja untuk mewakili Indonesia,” ujar Ma’ruf.
Di sisi lain, Direktur Parameter Politik Indonesia (PPI) Adi Prayitno menilai langkah Prabowo ini menunjukkan hubungan yang solid antara kedua tokoh, sekaligus mematahkan isu adanya “matahari kembar” dalam politik Indonesia.
“Prabowo dan Jokowi tetap kompak, dan ini menegaskan bahwa mataharinya cuma satu, yaitu Prabowo,” katanya.
Sementara itu, Direktur Eksekutif PARA Syndicate Virdika Rizky Utama menyebut keputusan ini sebagai “blunder politik” karena Jokowi, yang dinilai memiliki citra kontroversial di mata publik global, diutus ke acara yang sarat dengan nilai moral.
Terlepas dari polemik tersebut, kehadiran delegasi Indonesia di Vatikan menegaskan posisi Indonesia sebagai negara yang menghormati keragaman agama dan nilai-nilai kemanusiaan universal.
Surat pribadi dari Prabowo yang dibawa Jokowi juga menjadi simbol diplomasi Indonesia dalam menjaga hubungan baik dengan komunitas internasional, khususnya Vatikan, di tengah duka yang dirasakan umat Katolik sedunia.