JP Radar Nganjuk– Nama Dr. Tifauzia Tyassuma atau yang akrab disapa Dokter Tifa semakin sering terdengar di ruang publik.
Ia dikenal sebagai dokter sekaligus epidemiolog yang vokal menyuarakan isu-isu politik, salah satunya soal dugaan kejanggalan ijazah Presiden Joko Widodo.
Lewat berbagai pernyataannya di media sosial, Dokter Tifa mempertanyakan keaslian ijazah Jokowi dari Universitas Gadjah Mada (UGM).
Ia menyoroti beberapa hal teknis, seperti bentuk tulisan nama dalam ijazah yang menurutnya tidak sesuai dengan kebiasaan UGM pada masa itu.
“UGM punya tradisi menulis nama mahasiswa dengan tulisan halus dan khas. Tapi dalam ijazah Pak Jokowi, tulisannya justru tampak biasa saja,” ujar Tifa dalam salah satu unggahannya.
Ia juga mengkritisi keberadaan buku alumni dan salinan skripsi yang dinilainya mudah direkayasa.
Menurutnya, dokumen seperti itu bisa diuji secara ilmiah melalui analisis forensik dokumen, bukan hanya berdasarkan klaim satu pihak.
Pernyataan Dokter Tifa tentu tidak tanpa respons. Pihak UGM melalui rektornya telah menegaskan bahwa Joko Widodo memang benar lulusan Fakultas Kehutanan tahun 1985.
Namun, Tifa tetap meminta pembuktian yang lebih transparan dan terbuka kepada publik.
Di tengah sorotan, Dokter Tifa juga sempat dituduh menyematkan gelar doktor palsu. Menanggapi hal itu, ia memberikan klarifikasi bahwa dirinya belum menyelesaikan studi doktoralnya dan tidak pernah mengaku sebagai doktor lulusan STF Driyarkara seperti yang dituduhkan.
Ia menegaskan bahwa dirinya hanya tengah menempuh pendidikan lanjutan di beberapa institusi dan fokus pada kegiatan belajar-mengajar.
Sosok Dokter Tifa dikenal berani dan konsisten menyuarakan pandangan yang tak selalu sejalan dengan arus utama.
Meski sering menuai pro dan kontra, ia tetap aktif mengingatkan pentingnya keterbukaan dan akuntabilitas dari pejabat publik, termasuk soal riwayat pendidikan.
Bagi sebagian orang, Tifa mungkin dianggap terlalu frontal. Namun baginya, mengungkap fakta dan mengedukasi publik adalah bagian dari tanggung jawab intelektual.
“Saya bicara karena punya dasar. Jika tidak benar, buktikan saja secara terbuka,” tegasnya.
Penulis: Effa Desiana Hidayah
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira