JP Radar Nganjuk – Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi kembali menuai sorotan setelah video yang menampilkan perdebatan anatar dirinya dengan seorang alumni siswi yang memprotes kebijakan larangan wisuda yang berlaku mulai dari jenjang TK hingga SMA.
Larangan wisuda atau perpisahan di tingkat TK sampai dengan SMA adalah suatu kebijakan yang menjawab keluhan para orang tua yang mengaku tidak mampu membayarkan biaya untuk wisuda anak mereka.
Pasalnya, nominal yang dikeluarkan mencapai jutaan. Bahkan, tak sedikit juga orang tua yang harus mengajukan pinjaman uang untuk bisa melunasi biaya wisuda anak-anak mereka ditengah ekonomi yang semakin terhimpit.
Dalam video yang diunggah melalui akun resminya, Dedi Mulyadi mengundang sejumlah warga Bekasi yang terdampak penggusuran karena rumah yang dibangun berada dibantaran sungai, yang merupakan lahan milik negara.
Saat berdialog dengan beberapa warga yang hadir ditempat itu, ada seorang remaja perempuan yang turut menyinggung terkait penggusuran yang dinilai dilakuakn secara mendadak serta kebijakan larangan wisuda yang telah berlaku di Bekasi.
Pernyataan yang diucapkan oleh remaja perempuan itu lebih berfokus pada wisuda, adalah momen berkumpulnya para siswa-siswi bersama dengan para guru-guru pengajar untuk terakhir kalinya sebelum berpisah.
Ia juga mengatakan bahwa seharusnya wisuda tidak dihapuskan seluruhnya. Ia menyebut, masih banyak siswa dan orang tua diluar sana yang mendukung adanya wisuda yang digelar sebagai momen perpisahan terakhir.
Menjawab hal itu, Dedi tidak mempermasalahkan jika para siswa/siswi berencana untuk mengadakan kumpul bersama tetapi tanpa melibatkan pihak sekolah.
Dedi mengatakan, kebijakan yang dibuat oleh Bupati adalah suatu tindakan untuk menjawab keresahan yang dialami oleh para orang tua karena dana yang dibutuhkan wisuda anak-anak mereka.
Banyak para orang tua yang menyambut bahagia kebijakan tersebut karena benar-benar merasa sangat terbantu.
Dedi Mulyadi juga meyangkan tindakan orang tua dari remaja itu yang turut mendukung protes aksinya. Disaat keluarga tersebut tidak mampu secara finansial, tapi tetap memprotes kebijakan larangan wisuda itu.
Dana yang dikeluarkan untuk wisuda sebaiknya bisa dialihkan untuk sesuatu yang lebih positif dan bermanfaat, yang dapat membantu untuk meningkatkan pemasukan atau meningkatkan skill yang dapat berguna untuk masa depan.
Penulis: Nabila Syifa'ul Fuada Lii Dzikrilla
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira