JP Radar Nganjuk – Fenomena "pladu" kembali memikat perhatian masyarakat di sekitar Bendungan Karangkates, Kabupaten Malang.
Pladu sendiri merujuk pada tradisi tahunan di mana warga setempat menangkap ikan-ikan yang sedang mabuk akibat proses flushing atau pembersihan endapan lumpur di bendungan.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang berburu ikan, tetapi juga menjadi momen kebersamaan yang sudah lama menjadi bagian dari tradisi budaya masyarakat sekitar.
Pladu adalah tradisi yang terjadi setiap tahun setelah proses flushing dilakukan di Bendungan Karangkates.
Saat proses ini berlangsung, air dengan volume besar dialirkan untuk membersihkan endapan lumpur di dasar waduk, yang menyebabkan ikan-ikan di dalamnya menjadi teler atau mabuk.
Akibatnya, ikan-ikan tersebut pun menjadi mudah ditangkap oleh warga yang memanfaatkan kesempatan ini untuk memenuhi kebutuhan pangan atau dijual.
Kegiatan ini biasanya berlangsung selama beberapa hari, dan menjadi ajang berkumpulnya warga dari berbagai daerah, seperti Malang, Blitar, hingga Kediri.
Selain berfungsi sebagai sumber pangan, tradisi pladu juga memiliki makna sosial yang cukup kuat.
Warga dari berbagai desa sekitar bendungan berkumpul bersama untuk menangkap ikan.
Kegiatan ini tidak hanya sekadar menangkap ikan, tetapi juga mempererat tali persaudaraan antarwarga, serta menjadi ajang silaturahmi yang dinanti-nanti setiap tahunnya.
Tentunya, meskipun kegiatan ini berlangsung ramai, pihak berwenang tetap melakukan pengawasan agar keselamatan warga tetap terjamin selama proses berlangsung.
Namun, tradisi pladu kini menghadapi tantangan besar.
Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung di Bendungan Karangkates pada 2025 diperkirakan akan menggusur ratusan petak keramba ikan yang selama ini dikelola oleh petani setempat.
Para petani ikan merasa resah dengan adanya proyek tersebut, mengingat budidaya ikan air tawar di bendungan merupakan satu-satunya sumber pendapatan bagi mereka.
Sebagai solusi, para petani berharap agar keberlanjutan usaha mereka diperhatikan dalam perencanaan proyek ini.
Meskipun pladu menghadapi tantangan, harapan tetap ada agar tradisi ini bisa terus berjalan.
Diharapkan adanya dialog antara pemerintah, masyarakat, dan pihak terkait untuk menemukan solusi yang bijak, sehingga tradisi pladu tetap dapat berlangsung tanpa merugikan masyarakat yang menggantungkan hidupnya dari hasil budidaya ikan.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira