JP Radar Nganjuk - Ketua DPR RI, Puan Maharani, menyoroti maraknya kasus kematian Warga Negara Indonesia (WNI) di Kamboja yang diduga kuat terkait dengan praktik penipuan daring atau online scam.
Menurut data Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Phnom Penh, angka kematian WNI di Kamboja melonjak hingga 75 persen dalam periode Januari-Maret 2025 dibandingkan tahun sebelumnya, dengan 28 kasus kematian tercatat.
Peningkatan ini sejalan dengan lonjakan kasus WNI bermasalah, yang mencapai 1.301 kasus dalam tiga bulan, naik 174 persen dari periode yang sama di 2024.
Sebanyak 85 persen dari kasus tersebut terkait online scam, menunjukkan betapa seriusnya ancaman ini bagi pekerja migran Indonesia.
Puan menegaskan bahwa fenomena ini bukan lagi sekadar masalah domestik, melainkan darurat kawasan yang membutuhkan perhatian serius.
Ia mengkritik maraknya modus penipuan yang menargetkan WNI dengan iming-iming pekerjaan bergaji tinggi, namun berujung pada eksploitasi, kekerasan fisik, hingga kematian. “Kita tidak boleh membiarkan warga kita terus menjadi korban.
Penipuan daring ini telah merenggut nyawa, dan pemerintah harus bertindak tegas untuk melindungi pekerja migran kita,” ujar Puan, Selasa (29/4/2025).
Menurut Puan, pencegahan adalah kunci utama. Ia mendorong pemerintah untuk memaksimalkan edukasi masyarakat tentang bahaya job scam yang sering kali memanfaatkan media sosial untuk menjaring korban.
Banyak WNI, terutama anak muda, tergiur tawaran pekerjaan dengan gaji fantastis tanpa persyaratan rumit, namun akhirnya terjebak dalam sindikat kriminal seperti judi daring atau penipuan investasi.
“Literasi digital harus ditingkatkan. Masyarakat perlu tahu cara mengenali tawaran kerja ilegal yang berpotensi membahayakan,” tambahnya.
Selain edukasi, Puan juga menekankan pentingnya kerja sama regional melalui ASEAN untuk menangani kejahatan lintas negara ini.
Ia mengusulkan penguatan peran ASEAN Task Force on Migrant Workers (TFAMW) agar memiliki mandat yang lebih luas, termasuk melindungi pekerja migran dari eksploitasi digital.
“Indonesia harus memimpin upaya membentuk protokol bersama di ASEAN untuk menangani kasus eksploitasi dan memastikan pendataan pekerja migran dilakukan secara transparan antarnegara,” tegasnya.
Data KBRI Phnom Penh mencatat bahwa sepanjang 2024, 92 WNI meninggal di Kamboja, meningkat 24,3 persen dari tahun sebelumnya.
Penyebab kematian bervariasi, mulai dari penyakit kronis seperti jantung dan stroke, hingga infeksi menular seperti TBC dan HIV, serta kecelakaan.
Namun, korelasi kuat dengan aktivitas online scam menunjukkan bahwa kondisi kerja yang tidak manusiawi dan tekanan psikologis menjadi faktor penyumbang signifikan.
Banyak WNI yang terlibat dalam online scam telah berada di Kamboja lebih dari enam bulan, menunjukkan bahwa mereka terjebak dalam lingkaran eksploitasi yang sulit dilepaskan.
Puan juga meminta pemerintah memanfaatkan teknologi untuk mencegah dan menangani kasus serupa.
“Kampanye anti-penipuan harus digencarkan melalui berbagai platform media. Pemerintah daerah juga harus aktif memberikan informasi tentang jalur resmi untuk bekerja di luar negeri,” katanya.
Ia menegaskan komitmen DPR untuk mengawal isu ini, termasuk mendorong penguatan sistem perlindungan hukum bagi pekerja migran, terutama mereka yang berangkat melalui jalur tidak resmi.
Dubes RI untuk Kamboja, Santo Darmosumarto, turut mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati terhadap tawaran kerja yang tidak jelas.
“Meski pemerintah telah berulang kali mengeluarkan imbauan dan kasus ini sering viral di media sosial, masih banyak WNI yang tergiur tawaran pekerjaan menyesatkan,” ujarnya.
KBRI Phnom Penh berkomitmen untuk terus berkoordinasi dengan otoritas Kamboja dan instansi di Indonesia guna mencegah dan menangani kasus-kasus ini.
Kasus kematian WNI di Kamboja menjadi peringatan keras bagi semua pihak. Puan Maharani mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak menutup mata terhadap ancaman penipuan daring yang telah merenggut banyak nyawa.
“Ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga kita semua untuk melindungi saudara-saudara kita dari jebakan mematikan ini,” tutupnya.
Editor : Elna Malika