Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Bill Gates Beberkan Strategi Bangun Pembangkit Nuklir Hemat Biaya di Istana Negara

Elna Malika • Rabu, 7 Mei 2025 | 22:57 WIB
Bill Gates Beberkan Strategi Bangun Pembangkit Nuklir Hemat Biaya di Istana Negara
Bill Gates Beberkan Strategi Bangun Pembangkit Nuklir Hemat Biaya di Istana Negara
 
JP Radar Nganjuk – Miliarder dan pendiri Microsoft, Bill Gates, kembali menarik perhatian publik saat berbagi visinya tentang energi bersih di Istana Kepresidenan, Jakarta.
 
Dalam kunjungannya, Gates memaparkan strategi pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) yang terjangkau melalui perusahaan yang ia dirikan, TerraPower.
 
Fokus utama pembicaraan ini adalah bagaimana energi nuklir dapat menjadi solusi untuk mengurangi emisi karbon dan mengatasi krisis iklim global, termasuk di Indonesia.
 
Gates menegaskan bahwa salah satu penyebab utama krisis iklim adalah penggunaan energi berbahan bakar fosil yang menghasilkan emisi karbon tinggi.
 
Untuk itu, ia mengusulkan energi nuklir sebagai alternatif yang hampir bebas emisi.
 
“Kita harus memangkas emisi karbon secara signifikan, dan nuklir adalah salah satu cara paling efektif untuk mencapai itu,” ujar Gates di hadapan awak media.
 
Ia menambahkan bahwa PLTN modern memiliki potensi menghasilkan listrik dalam jumlah besar dengan dampak lingkungan yang minimal dibandingkan pembangkit berbahan bakar batu bara atau gas.
 

Melalui TerraPower, perusahaan yang didirikannya pada 2006, Gates berupaya merevolusi industri nuklir dengan mengembangkan reaktor generasi keempat berteknologi canggih.
 
Berbeda dengan reaktor tradisional yang menggunakan air sebagai pendingin, reaktor TerraPower memanfaatkan natrium cair. Teknologi ini diklaim lebih aman karena tidak memerlukan tekanan tinggi, sehingga mengurangi risiko kecelakaan.
 
Selain itu, reaktor ini dapat menyimpan panas dalam tangki garam cair, yang memungkinkan produksi listrik hingga 500 megawatt per jam, cukup untuk memasok kebutuhan listrik sekitar 400.000 rumah.

Salah satu tantangan utama energi nuklir adalah biaya pembangunan yang tinggi. Gates mengakui hal ini dan menekankan bahwa TerraPower sedang bekerja untuk menekan biaya agar PLTN dapat diadopsi secara luas, termasuk di negara berkembang seperti Indonesia.
 
“Kami ingin membuat nuklir tidak hanya aman, tapi juga murah. Dengan membangun lebih banyak reaktor, kami bisa menurunkan biaya produksi secara signifikan,” katanya.
 
Ia menyebut kemitraan strategis dengan pemerintah dan sektor swasta, seperti yang dilakukan di Amerika Serikat, sebagai kunci untuk mewujudkan visi ini.
 
Proyek percontohan TerraPower di Wyoming, misalnya, mendapat dukungan dana sebesar US$2 miliar dari pemerintah AS, menunjukkan potensi kolaborasi serupa di negara lain.
 

Dalam konteks Indonesia, Gates menyoroti pentingnya transisi energi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.
 
Konsumsi listrik per kapita Indonesia yang masih rendah, sekitar 1.000 kWh per tahun, menunjukkan perlunya penambahan kapasitas pembangkit yang andal dan berkelanjutan.
 
Dengan potensi sumber daya uranium dan thorium yang dimiliki Indonesia, serta lokasi yang memenuhi syarat untuk PLTN, Gates melihat peluang besar bagi Indonesia untuk mengadopsi teknologi nuklir.
 
Namun, ia juga menekankan pentingnya regulasi yang ketat, sumber daya manusia yang terlatih, dan sosialisasi kepada masyarakat untuk mengatasi kekhawatiran terkait keselamatan nuklir.
 
Meskipun optimistis, Gates tidak menampik adanya tantangan, seperti perizinan yang kompleks dan ketersediaan bahan bakar khusus seperti uranium yang diperkaya (HALEU).
 
Untuk itu, TerraPower tengah mencari mitra global, termasuk dari Jepang dan Korea Selatan, yang telah berhasil mengintegrasikan nuklir dalam bauran energinya.
 
Gates berharap reaktor pertamanya di Wyoming dapat mulai beroperasi pada 2030, menjadi model bagi proyek serupa di seluruh dunia.
 
“Jika kami bisa membuktikan bahwa nuklir bisa murah dan aman, ini akan mengubah cara dunia memandang energi,” tutupnya.
 
Kunjungan Gates ke Istana Negara ini menjadi sinyal kuat bahwa Indonesia memiliki peluang untuk menjadi bagian dari revolusi energi bersih.
 
Dengan pendekatan yang tepat, energi nuklir bisa menjadi pilar penting dalam mencapai target emisi nol bersih pada 2060, sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan di Tanah Air.
 
Editor : Elna Malika
#uranium #strategi #pltn #thorium #Hemat Biaya #energi nuklir #Wyoming #pembangkit listrik tenaga nuklir #radar nganjuk #emisi karbon #jepang #krisis iklim #fosil #korea selatan #istana negara #bill gates