JP Radar Nganjuk - Sebuah momen menarik terjadi ketika Dedi Mulyadi, seorang tokoh masyarakat yang dikenal peduli terhadap rakyat kecil, bertemu dengan seorang ayah yang memiliki 11 anak.
Pertemuan ini berawal dari kepedulian Dedi terhadap seorang anak penjual kue yang ia temui di jalanan.
Penasaran dengan kondisi keluarga anak tersebut, Dedi pun mengikuti anak itu hingga sampai ke rumahnya.
Setibanya di sana, Dedi mendapati bahwa keluarga tersebut tinggal di sebuah rumah sederhana dengan kondisi yang sangat terbatas.
Rumah kecil itu dihuni oleh ayah, ibu, dan 11 anak mereka, yang hidup dalam keterbatasan ekonomi.
Melihat situasi tersebut, Dedi tergerak untuk memberikan bantuan. Ia menawarkan modal usaha kepada sang ayah agar dapat memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.
Selain itu, Dedi juga mengusulkan agar sang ayah mengikuti program Keluarga Berencana (KB) untuk mencegah bertambahnya anak di tengah keterbatasan yang ada.
Dengan penuh ketulusan, Dedi menyampaikan niatnya untuk membantu sang ayah menjalani program KB.
Ia bahkan bersedia membantu mencetak buku panduan mengajar agar sang ayah bisa menjadi guru bagi anak-anaknya yang belum berkesempatan mengenyam pendidikan formal.
“Saya tulus ingin membantu Bapak untuk ikut KB, supaya tidak ada anak ke-12. Saya juga siap membantu Bapak menjadi pengajar untuk anak-anak,” ujar Dedi dengan nada bijaksana.
Namun, respons sang ayah justru mengejutkan. Dengan tenang sambil menggendong salah satu anaknya yang masih bayi, ia menolak tawaran tersebut dengan alasan bahwa ia perlu melakukan istikharah terlebih dahulu.
“Saya istikharah dulu,” katanya sederhana, menunjukkan bahwa keputusan tersebut bukanlah sesuatu yang bisa diambil secara langsung baginya.
Jawaban ini mencerminkan pandangan sang ayah yang memandang anak-anaknya sebagai anugerah dan rezeki, sebuah keyakinan yang mungkin berakar pada nilai-nilai yang ia pegang.
Meski begitu, situasi ini juga menyoroti tantangan dalam menyeimbangkan keyakinan pribadi dengan realitas ekonomi, terutama ketika anak-anak turut terdampak oleh keterbatasan tersebut.
Editor : Elna Malika