JP Radar Nganjuk – Pernyataan tegas datang dari aktor sekaligus anggota Komisi X DPR RI, Verrell Bramasta, yang menyuarakan keresahannya terhadap kebijakan kontroversial Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Program pengiriman siswa bermasalah ke barak militer menuai sorotan tajam dari politisi muda tersebut.
Dalam sebuah video yang diunggah oleh akun resmi Partai Amanat Nasional (PAN) di TikTok, Verrell menyampaikan bahwa penanganan terhadap kenakalan remaja tak bisa hanya melalui pendekatan keras ala militer.
“Kita perlu tahu hal ini lebih mendalam dalam banyak kasus perilaku menyimpang bagi para anak-anak muda atau remaja ini bukan hanya semata-mata karena soal disiplin yang lemah,” ujarnya lugas, mengkritisi pendekatan Dedi yang dinilai terlalu ekstrem.
Menurut Verrell, anak-anak yang disebut ‘bermasalah’ itu sejatinya membutuhkan pendampingan emosional, pendekatan psikologis, bahkan spiritual.
“Kalau hanya mengandalkan disiplin ala barak, mereka bisa tumbuh jadi pribadi yang keras, bukan kuat. Ini dua hal yang berbeda,” tambahnya.
Ia juga menekankan bahwa dalam sistem pendidikan nasional tidak ada ketentuan yang membenarkan pendidikan militer sebagai solusi utama atas kenakalan remaja.
Ia mengajak pemerintah daerah untuk kembali pada pendekatan humanis dan berbasis pendidikan karakter yang lebih menyentuh sisi kemanusiaan anak-anak.
Namun, kritik tersebut tak luput dari tanggapan keras. Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein, menantang Verrell untuk langsung terjun mengurus 15 siswa bermasalah di daerahnya.
“Yang Mas Verrel maksud pro kontra tuh orang tua yang mana? Ini orang tuanya nitipin semua. Mendingan turun deh Mas. Mendingan lihat langsung deh daripada berwacana,” tantangnya.
Sementara itu, gejolak di masyarakat mulai tampak. Seorang wali murid dari Bekasi, Adhel Setiawan, bahkan telah melayangkan laporan ke Komnas HAM.
Ia menilai program ini sebagai bentuk keputusasaan pemerintah dalam mengatasi kenakalan remaja.
Seperti diketahui, program barak militer ini resmi digulirkan sejak 2 Mei 2025. Kota Depok menjadi daerah pertama yang menerapkan sistem ini.
Selama enam bulan ke depan, para siswa yang dianggap sulit diatur akan dikirim ke lokasi khusus dan menjalani pembinaan intensif, mulai dari bangun pagi, baris-berbaris, olahraga disiplin, hingga pembinaan mental.
Dedi Mulyadi sendiri bersikeras bahwa program ini merupakan bentuk kasih sayang dan kepedulian terhadap masa depan generasi muda.
Ia mengklaim seluruh siswa yang dikirim telah mendapatkan persetujuan dari orang tua masing-masing.
dedBaca Juga: Tepati Janji, Hari Ini Dedi Mulyadi Berkunjung ke Barak Untuk Melihat Kondisi Para Sisawa yang Dibina
“Kalau tidak dengan cara ini, mereka bisa makin liar,” ujarnya dalam pernyataan sebelumnya.
Meski menuai kritik, sejumlah video memperlihatkan momen haru seperti seorang remaja bersujud di kaki ibunya saat kunjungan keluarga di barak. Momen itu digadang-gadang sebagai bukti keberhasilan program, meski banyak pihak masih meragukannya.
Penulis: Rozita Nur Azizah
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira