JP Radar Nganjuk– Rumor soal kemungkinan merger dua raksasa ride-hailing, Grab dan GoTo, kembali menguat.
Meski belum ada konfirmasi resmi, spekulasi ini langsung menyedot perhatian publik.
Pemerintah pun diminta turun tangan agar ekosistem digital nasional tak jatuh ke satu pihak.
Pengamat startup dan investasi, Raymond Chin, mengingatkan pentingnya peran negara dalam menjaga keseimbangan.
Menurutnya, jika merger benar terjadi, kekuatan pasar bisa terlalu terpusat pada satu pemain besar.
“Ini bukan soal bisnis saja, tapi menyangkut jutaan pekerja dan UMKM. Negara harus hadir,” tegas Raymond.
Ia menyebut, nilai ekonomi digital Indonesia tahun ini diprediksi tembus USD 130 miliar, atau hampir separuh dari total ekonomi digital Asia Tenggara.
Karena itu, menurut dia, perusahaan lokal seperti GoTo perlu tetap diberi ruang agar tidak hanya jadi pelengkap di kandangnya sendiri.
Sementara itu, Grab Indonesia memilih irit bicara.
Chief of Public Affairs Grab Indonesia, Tirza Munusamy, menegaskan bahwa rumor merger tidak berdasar karena belum ada informasi resmi yang bisa diverifikasi.
“Fokus kami tetap pada pemberdayaan pelaku ekonomi lokal,” katanya.
Tirza juga menanggapi isu soal dominasi asing.
Ia menyebut 99 persen karyawan Grab Indonesia adalah WNI, dan mayoritas keputusan bisnis dipegang oleh talenta lokal.
“Grab Indonesia dijalankan oleh orang Indonesia, untuk Indonesia,” ujarnya.
Di sisi lain, GoTo akhirnya buka suara. Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen mengaku memang kerap mendapat pendekatan dari pihak lain.
Tapi semua pembicaraan itu masih awal dan bersifat rahasia. “Belum ada kesepakatan apa pun,” tulis manajemen.
Menariknya, GoTo sedang merancang aksi buyback saham senilai Rp 3,33 triliun.
Rencana ini bakal dibahas dalam RUPS pada 18 Juni mendatang.
Langkah tersebut disebut sebagai strategi menjaga stabilitas saham dan kepercayaan investor.
Sementara itu, keresahan mulai muncul dari lapisan bawah.
Komunitas driver ojol mengaku khawatir jika merger terjadi, pendapatan mereka bakal terganggu karena peluang persaingan bisa hilang.
Penulis: Effa Desiana Hidayah
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira