JP Radar Nganjuk – Ribuan pengemudi ojek online (ojol) dari berbagai penjuru Jabodetabek memadati kawasan Monas dan Istana Merdeka, Selasa (20/5).
Mereka menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran menuntut kejelasan regulasi, revisi sistem kerja, dan pengurangan potongan dari aplikasi.
Pantauan di lapangan, aksi berlangsung tertib namun memicu kemacetan parah di beberapa ruas jalan protokol.
Sejumlah pengemudi membawa spanduk bertuliskan “Kami Bukan Mitra, Tapi Buruh Digital” hingga “Potongan 20 Persen Mencekik”.
Ketua Asosiasi Pengemudi Transportasi dan Jasa Daring Indonesia (APTJDI), Rendi Prasetya, mengatakan bahwa aksi ini merupakan bentuk akumulasi kekecewaan pengemudi terhadap perusahaan aplikator dan pemerintah.
“Selama ini kami diperlakukan sebagai mitra, tapi tanpa perlindungan hukum dan hak-hak yang jelas. Kami juga dibebani potongan yang terlalu tinggi, bisa sampai 20 persen dari tarif,” ujarnya saat orasi di depan massa.
Dalam aksinya, APTJDI membawa tiga tuntutan utama.
Pertama, mereka mendesak pemerintah segera menerbitkan regulasi perlindungan hukum bagi pengemudi dan kurir daring.
Kedua, potongan biaya dari aplikasi diminta maksimal hanya 10 persen.
Ketiga, mereka menolak sistem seperti double order, akun centang, dan slot yang dinilai mempersulit pengemudi.
Sebagai bentuk protes tambahan, para pengemudi juga melakukan aksi offbid massal dengan mematikan aplikasi selama aksi dan dua hari berikutnya.
Aksi ini berdampak signifikan terhadap layanan ojol di Jakarta.
Banyak pengguna mengeluhkan sulitnya mendapatkan driver, sementara waktu tunggu pengantaran meningkat.
Meski demikian, pihak Gojek menyatakan bahwa operasional layanan tetap berjalan normal.
Polda Metro Jaya dan Dinas Perhubungan DKI Jakarta mengimbau warga untuk menghindari sejumlah titik seperti Jalan Merdeka Barat, Thamrin, dan Sudirman.
Beberapa rute TransJakarta pun dialihkan untuk menghindari kemacetan yang ditimbulkan aksi tersebut.
Hingga sore hari, massa masih bertahan di sekitar Istana sambil menunggu respons dari perwakilan pemerintah.
Penulis: Effa Desiana Hidayah
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira