Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Viral! Masuk UGD karena Overdosis Matcha, Waspadai Takaran Maksimal Harian

Redaksi Radar Nganjuk • Kamis, 22 Mei 2025 | 01:10 WIB
Makanan dan Minuman Matcha
Makanan dan Minuman Matcha

JP Radar Kediri - Dilansir dari salah satu tweet milik akun X @gagahmei (8/4) baru-baru ini menarik perhatian warganet setelah seorang pengguna membagikan cerita mengejutkan tentang seseorang yang harus dilarikan ke Unit Gawat Darurat (UGD) akibat mengonsumsi terlalu banyak matcha. Dalam unggahan tersebut, si pengguna memperingatkan agar konsumsi matcha tidak berlebihan, bahkan menyebut batas aman maksimal hanya 4 gram per hari.

Peringatan tersebut ternyata bukan tanpa dasar. Sebuah studi sistematis yang dilakukan oleh Hu et al. (2018) mengungkap bahwa matcha memang mengandung senyawa antioksidan kuat bernama EGCG (epigallocatechin gallate), yang dikenal bermanfaat untuk kesehatan. Namun, jika dikonsumsi dalam jumlah besar, senyawa ini justru bisa menjadi racun bagi tubuh, terutama bagi organ hati.

Studi tersebut menyebutkan bahwa konsumsi EGCG di atas 800 mg per hari dapat bersifat toksik dan menimbulkan berbagai efek samping seperti mual, jantung berdebar, hingga gangguan tidur. Terlebih lagi, mengonsumsi matcha dalam kondisi perut kosong dapat memperparah efek negatif tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun alami, matcha bukan tanpa risiko.

 Baca Juga: Puluhan Siswa MAN 1 Cianjur Alami Gejala Keracunan Usai Konsumsi Makanan Program MBG, Dinas Kesehatan Selidiki Dapur Penyedia

Dalam ukuran praktis, para ahli merekomendasikan batas konsumsi matcha sebanyak 2 hingga 4 gram bubuk per hari, yang setara dengan sekitar 2 sampai 3 cangkir. Melebihi takaran ini justru berpotensi membalikkan manfaat sehat matcha menjadi ancaman kesehatan, terutama jika dikonsumsi secara rutin dalam jumlah besar.

Fenomena konsumsi berlebihan ini juga dipicu oleh tren gaya hidup sehat yang tidak disertai pemahaman ilmiah. Banyak orang mengira bahwa karena matcha alami dan "organik", maka aman dikonsumsi sebanyak mungkin. Padahal, semua yang masuk ke tubuh tetap harus melalui batas toleransi biologis.

Kasus viral ini menjadi pengingat pentingnya edukasi gizi dan kesehatan berbasis bukti ilmiah. Konsumen perlu memahami bahwa “sehat” tidak otomatis berarti “bebas risiko.” Bahkan superfood sekalipun bisa menjadi ancaman jika digunakan secara tidak bijak.(jsea)

 

Penulis: Aurellsya Jessica Putri Editya

 

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#Dosis #pola makan #matcha #gaya hidup #Unit Gawat Darurat #studi #gangguan tidur #minuman matcha #keracunan