JP Radar Nganjuk - Gunung Semeru, gunung tertinggi di Pulau Jawa yang terletak di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya.
Pada Kamis pagi, 22 Mei 2025, gunung ini mengalami erupsi dengan melontarkan kolom abu setinggi 600 meter di atas puncak kawah.
Erupsi ini tercatat sebagai salah satu dari tiga letusan yang terjadi sejak dini hari hingga pukul 07.30 WIB, menurut laporan Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Semeru di Gunung Sawur.
Erupsi pertama yang teramati terjadi pada pukul 05.34 WIB dengan intensitas sedang, menghasilkan kolom abu berwarna putih hingga kelabu yang mengarah ke barat.
Petugas PPGA mencatat bahwa aktivitas vulkanik ini merupakan bagian dari pola erupsi berkala yang kerap terjadi di Gunung Semeru.
Meski status gunung tetap berada pada Level II (Waspada), masyarakat di sekitar diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bahaya.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan rekomendasi tegas terkait aktivitas di sekitar Gunung Semeru.
Masyarakat dilarang melakukan aktivitas apa pun di sektor tenggara, khususnya sepanjang Besuk Kobokan, dalam radius 8 kilometer dari puncak.
Wilayah ini dianggap rawan terhadap aliran lahar dan awan panas yang dapat membahayakan keselamatan.
Selain itu, PVMBG juga melarang aktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan.
Hal ini disebabkan potensi perluasan awan panas dan aliran lahar yang dapat mencapai hingga 13 kilometer dari puncak.
Rekomendasi ini bertujuan untuk meminimalkan risiko bagi warga yang tinggal atau beraktivitas di dekat aliran sungai yang berhulu di Gunung Semeru.
Kabid Kedaruratan dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lumajang, Yudhi Cahyono, menegaskan pentingnya kepatuhan masyarakat terhadap imbauan ini.
Ia menjelaskan bahwa meskipun status waspada tidak menunjukkan peningkatan aktivitas yang signifikan, potensi bahaya seperti guguran lava pijar dan hujan abu tetap perlu diwaspadai, terutama saat musim hujan.
Erupsi Gunung Semeru kali ini juga memunculkan kekhawatiran terkait potensi banjir lahar hujan.
Lembah-lembah sungai seperti Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta anak-anak sungai di sekitarnya, berpotensi menjadi jalur aliran lahar jika terjadi hujan lebat.
Oleh karena itu, warga diminta untuk terus memantau perkembangan cuaca dan informasi resmi dari otoritas.
Masyarakat yang tinggal di kawasan rawan bencana juga diimbau untuk menggunakan masker atau penutup hidung dan mulut saat beraktivitas di luar ruangan.
Abu vulkanik yang beterbangan akibat erupsi dapat menyebabkan gangguan pernapasan jika terhirup dalam jumlah besar.
Langkah ini merupakan tindakan preventif untuk menjaga kesehatan warga di tengah aktivitas vulkanik yang berlangsung.
Pihak berwenang, termasuk PVMBG dan BPBD, menekankan pentingnya mematuhi informasi resmi dan tidak mempercayai hoaks yang beredar di media sosial.
Kabar yang tidak jelas sumbernya dapat memicu kepanikan dan tindakan yang tidak perlu.
Masyarakat diminta untuk selalu merujuk pada laporan resmi dari PPGA atau instansi terkait untuk mendapatkan informasi yang akurat.
Aktivitas Gunung Semeru yang terus berlangsung menunjukkan bahwa gunung ini masih aktif dan memerlukan pemantauan ketat.
Baca Juga: Geger! Video Ka’bah Diwarnai Simbol LGBT, Netizen Bersatu Teriakkan Ini
Dalam beberapa minggu terakhir, Semeru tercatat mengalami erupsi berkali-kali dengan ketinggian kolom abu bervariasi, mulai dari 500 meter hingga 1.000 meter.
Pola ini mengindikasikan bahwa gunung ini tetap berada dalam fase aktivitas vulkanik yang tinggi.
Untuk menjaga keselamatan, warga diimbau untuk tetap tenang namun waspada, serta mematuhi semua rekomendasi yang diberikan oleh otoritas.
Dengan mematuhi jarak aman dan menjaga kewaspadaan terhadap potensi bahaya, risiko akibat erupsi Gunung Semeru dapat diminimalkan.
PVMBG dan BPBD akan terus memantau perkembangan aktivitas gunung untuk memberikan informasi terkini kepada masyarakat.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira