JP Radar Nganjuk – Sebuah video yang memperlihatkan papan kayu dan pelat logam terpasang di tangga Candi Borobudur mendadak viral di media sosial.
Video tersebut disertai narasi bahwa situs warisan dunia itu akan dipasangi eskalator demi mempermudah kunjungan kenegaraan, dan hal ini langsung memicu kekhawatiran serta perdebatan luas di kalangan warganet.
Banyak yang mempertanyakan keputusan tersebut karena dianggap dapat merusak struktur candi yang telah berdiri lebih dari 12 abad.
Banyak yang mempertanyakan keputusan tersebut karena dianggap dapat merusak struktur candi yang telah berdiri lebih dari 12 abad.
Tak sedikit yang menyayangkan apabila situs bersejarah itu harus dikorbankan demi kenyamanan sesaat.
Merespons kegaduhan ini, Menteri Kebudayaan Fadli Zon angkat bicara.
Merespons kegaduhan ini, Menteri Kebudayaan Fadli Zon angkat bicara.
Baca Juga: Tragedi KA Malioboro Ekspres Tabrak Tujuh Motor: Petugas Palang Pintu Ditetapkan sebagai Tersangka
Dalam pernyataan resminya di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (26/5), Fadli menegaskan bahwa kabar pemasangan eskalator maupun lift permanen di Candi Borobudur adalah tidak benar alias hoaks.
“Tidak ada pembangunan eskalator atau lift seperti yang disebutkan. Apalagi sampai menggunakan ekskavator, itu tidak benar,” ujar Fadli Zon.
Yang sedang dilakukan, lanjutnya, adalah pemasangan chairlift non-permanen atau stairlift, yakni alat bantu naik bagi penyandang disabilitas, lansia, dan biksu senior yang ingin mencapai bagian atas candi tanpa harus menapaki ratusan anak tangga.
“Tidak ada pembangunan eskalator atau lift seperti yang disebutkan. Apalagi sampai menggunakan ekskavator, itu tidak benar,” ujar Fadli Zon.
Yang sedang dilakukan, lanjutnya, adalah pemasangan chairlift non-permanen atau stairlift, yakni alat bantu naik bagi penyandang disabilitas, lansia, dan biksu senior yang ingin mencapai bagian atas candi tanpa harus menapaki ratusan anak tangga.
Fasilitas ini bersifat sementara dan dipasang tanpa pengeboran atau sistem permanen, sehingga dapat dilepas tanpa meninggalkan bekas di struktur batu candi.
Fadli juga mencontohkan bahwa teknologi serupa telah digunakan di berbagai situs warisan dunia lain seperti Akropolis di Yunani dan Basilika Santo Petrus di Vatikan.
Fadli juga mencontohkan bahwa teknologi serupa telah digunakan di berbagai situs warisan dunia lain seperti Akropolis di Yunani dan Basilika Santo Petrus di Vatikan.
Prinsip konservasi tetap dijaga, dan pemasangan dilakukan dengan pengawasan ketat agar tidak merusak nilai historis dan budaya.
Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi turut memberikan penjelasan.
Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan Hasan Nasbi turut memberikan penjelasan.
Menurutnya, fasilitas sementara ini disiapkan untuk menyambut kunjungan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang dijadwalkan datang pada 28-29 Mei 2025.
Dalam kunjungan tersebut, Macron akan didampingi oleh Presiden Prabowo Subianto.
Karena keterbatasan waktu kunjungan, pemerintah menyediakan jalur landai hingga lantai empat serta stairlift menuju bagian atas.
Karena keterbatasan waktu kunjungan, pemerintah menyediakan jalur landai hingga lantai empat serta stairlift menuju bagian atas.
Hasan menekankan bahwa tidak ada proses pemasangan paku atau bor, dan semua infrastruktur bersifat sementara.
“Pemasangan dilakukan tanpa merusak struktur candi, dan akan langsung dibongkar setelah acara selesai,” ujar Hasan.
Ia juga menjelaskan bahwa Candi Borobudur memiliki ketinggian setara gedung 12 lantai, sehingga diperlukan solusi yang memungkinkan akses cepat namun tetap menjaga kelestarian.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo pun menjelaskan bahwa kementeriannya tidak terlibat langsung dalam urusan teknis pemasangan fasilitas di area utama candi.
“Pemasangan dilakukan tanpa merusak struktur candi, dan akan langsung dibongkar setelah acara selesai,” ujar Hasan.
Ia juga menjelaskan bahwa Candi Borobudur memiliki ketinggian setara gedung 12 lantai, sehingga diperlukan solusi yang memungkinkan akses cepat namun tetap menjaga kelestarian.
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo pun menjelaskan bahwa kementeriannya tidak terlibat langsung dalam urusan teknis pemasangan fasilitas di area utama candi.
“Kami hanya bertugas menata kawasan sekitar, termasuk penyediaan mobil golf bagi tamu kenegaraan,” katanya.
Penanganan teknis, lanjutnya, diserahkan kepada InJourney, anak perusahaan PT Aviasi Pariwisata Indonesia yang menjadi pengelola kawasan Borobudur.