Pemerintah Indonesia terus menggenjot strategi hilirisasi dan pengembangan energi terbarukan guna memperkuat perekonomian nasional.
Dalam upaya ini, Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan mengajak perusahaan-perusahaan Prancis untuk berinvestasi di berbagai sektor strategis di Indonesia.
Fokus utama meliputi hilirisasi industri, khususnya nikel dan bauksit, serta pengembangan energi baru terbarukan (EBT) untuk mendukung transisi menuju ekonomi hijau.
Luhut menegaskan pentingnya kerja sama internasional untuk mempercepat pembangunan infrastruktur dan industri di Indonesia.
Dalam pertemuan dengan delegasi pengusaha Prancis yang tergabung dalam MEDEF International pada Februari 2025, ia menyampaikan bahwa Indonesia memiliki potensi besar di sektor energi dan sumber daya alam.
“Kami membuka peluang lebar bagi investor asing, termasuk Prancis, untuk berkontribusi dalam proyek-proyek strategis,” ujar Luhut, menekankan komitmen pemerintah memberikan kemudahan berinvestasi.
Salah satu sektor yang menjadi perhatian adalah hilirisasi nikel, yang telah terbukti menarik investasi signifikan.
Kawasan Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Sulawesi Tengah, misalnya, berhasil menarik investasi Rp562 triliun dan menghasilkan devisa Rp252 triliun.
Menurut laporan, kawasan ini juga menciptakan puluhan ribu lapangan kerja, menunjukkan dampak positif hilirisasi terhadap ekonomi lokal.
Tidak hanya nikel, hilirisasi juga diperluas ke sektor lain seperti bauksit, tembaga, perkebunan, dan perikanan.
Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani melaporkan bahwa pada kuartal pertama 2025, investasi hilirisasi mencapai Rp136,3 triliun, menyumbang 29,3% dari total investasi nasional sebesar Rp465,2 triliun. Angka ini meningkat 79,8% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya.
Dalam konteks energi, Indonesia memiliki potensi EBT hingga 3.700 gigawatt, namun pemanfaatannya baru mencapai kurang dari 1%.
Rosan Roeslani, yang juga menjabat sebagai CEO Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara), menyatakan bahwa energi terbarukan menjadi prioritas investasi.
“Kami ingin mempercepat transisi energi dengan menggandeng mitra internasional,” katanya, seraya menyoroti peluang di sektor pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan angin (PLTB).
Perusahaan Prancis seperti Eramet menjadi salah satu mitra strategis dalam rencana ini. Eramet, yang telah beroperasi di Weda Bay, Halmahera Tengah sejak 2006, berkomitmen mendukung hilirisasi nikel untuk produksi baterai kendaraan listrik (EV).
“Kami siap berinvestasi dalam fasilitas manufaktur hijau,” ungkap perwakilan Eramet, menegaskan minat mereka untuk memperluas investasi bersama mitra lokal.
Kolaborasi dengan Prancis juga didukung oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).
Dengan dana awal US$20 miliar, Danantara memfokuskan investasi pada hilirisasi dan energi terbarukan, termasuk pembangunan pusat data kecerdasan buatan dan kilang minyak.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa investasi ini akan memperkuat ekosistem industri dalam negeri.
Luhut juga menyoroti pentingnya kepastian regulasi untuk menarik investor. Dalam diskusi dengan Kadin Indonesia, ia menyatakan bahwa pemerintah terus menyederhanakan perizinan dan memastikan infrastruktur yang memadai.
“Kami tidak ingin investor terkendala oleh birokrasi atau premanisme,” tegasnya, merujuk pada upaya pemerintah menangani gangguan terhadap iklim investasi.
Kerja sama dengan Prancis tidak hanya terbatas pada investasi, tetapi juga memperkuat hubungan perdagangan melalui perundingan Indonesia-EU Comprehensive Economic Partnership Agreement (I-EUCEPA).
Eramet, misalnya, mendukung percepatan perundingan ini untuk mempermudah akses pasar dan investasi. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing Indonesia di pasar global.
Secara keseluruhan, ajakan Luhut kepada Prancis mencerminkan visi Indonesia untuk menjadi pusat hilirisasi dan energi hijau di kawasan. Dengan potensi sumber daya alam dan energi yang melimpah, serta dukungan regulasi yang semakin kondusif, Indonesia optimistis dapat menarik lebih banyak investasi asing.
Kolaborasi ini diharapkan tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira