JP Radar Kediri- Hadiah jam tangan mahal Rolex yang diberikan Presiden Prabowo Subianto kepada Timnas Indonesia, usai memenangkan pertandingan melawan China, dalam kualifikasi Piala Dunia 2026 masih menjadi perbincangan publik.
Banyak yang menyoroti transparansi anggaran yang digunakan karena Indonesia sedang dalam kondisi efisiensi serta banyak juga yang membandingkan perbedaan apresiasi yang diberikan antara cabang sepak bola dengan cabang olahraga lain.
Mantan atlet wushu, Lindswell Kwok memberikan pengakuannya terkait perbedaan apresiasi antar cabang yang dilakukan pemerintah serta fakta ironi yag menimpa atlet. Hal tersebut ia sampaikan dalam unggahan instagram story pada Sabtu (7/6).
“Kesenjangan atlit, tentu bangga dengan prestasi sejawat. Tapi sudah adil belum pemerintah dalam memfasilitasi atlit-atlitnya? Apa karena cabang olahraganya (sepak bola) lebih terkenal? Lantas bukannya prestasi dinilai dari pencapaian?” ungkap Lindswell.
Peraih medali emas Asian Games 2018 ini juga menyoroti perbedaan anggaran untuk masing-masing cabang olahraga yang dinilai tidak seimbang. Ia menuliskan untuk tahun ini anggaran di cabang sepak bola hampir mendekati 200 miliar, sedangkan untuk cabang lain hanya sekitar 10 sampai 30 miliar.
Lindswell juga menyinggung terkait biaya naturalisasi atlit dan gaji pelatih yang menurutnya memakan banyak anggaran.
“Btw kalian ga tau kan, berapa biaya untuk naturalisasi atlit dan berapa gaji pelatih dan atlit indo? The real kesenjangan atlit” tulisnya.
Selain membahas tentang kesenjangan apresiasi dan anggaran, Lindswell juga membagikan cerita pilu terkait atlit wushu junior yang dipulangkan tiba-tiba karena efisiensi. Atlit junior tersebut sebelumnya dipersiapkan Kementerian Pemuda dan Olahraga (kemenpora) untuk kompetisi Youth Olimpic Games 2026.
Mereka yang terpilih melalui seleksi kemudian masuk di Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) Jakarta. Setelah 8 bulan mereka meninggalkan rumah dan sekolah, pada akhir Maret 2025 pelatih senior dihubungi melalui Zoom untuk memulangkan para atlit tersebut karena alasan efisiensi.
“Mereka Dipulangkan! Karena ini adalah program kemenpora, PB tidak punya kuasa untuk mempertahankan. dan ini hanya salah satu dari sekian banyak hal yang dialami cabor-cabor unggulan yang tidak seterkenal bola”
Pada postingan selanjutnya Lindswell meminta pemerintah untuk memberikan perhatian dan keadilan yang sama antara cabang sepak bola dengan cabang olahraga lain.
Di akhir postingan, Lindswell menekankan bahwa apa yang ia tulis adalah bentuk dari kritik yang ia tujukan kepada pemerintah, bukan ajang untuk berdebat sesama rakyat, ataupun menyudutkan atlit lain.
“Sudah kewajibanku sebagai orang yang berkecimpung di dunia olahraga untuk speak up, dan sekali lagi ini untuk pemerintah. Bukan untuk fans atau atlit tertentu” pungkasnya. (*)
Editor : Jauhar Yohanis