JP Radar Nganjuk – Kabar duka menyelimuti umat Kristen di Indonesia. Pendeta Jusuf Roni, tokoh terkemuka dalam gereja aliran Pentakosta dan Karismatik, wafat di usia 79 tahun, Minggu (29/6) di Jakarta.
Pria yang memiliki nama lengkap Abubakar Masasyhur (KAM) Jusuf Roni ini menghembuskan napas terakhirnya setelah puluhan tahun mengabdi dalam pelayanan gereja.
Jenazah almarhum kini disemayamkan di Rumah Duka St. Carolus, Ruang Mikael B, Jakarta Pusat.
Lahir di Palembang pada 6 Desember 1946, almarhum dikenal sebagai gembala sidang Gereja Kemah Abraham dan menjabat sebagai penatua hingga akhir hayatnya.
Perjalanan pelayanannya dimulai pada 1980 saat ia mendirikan Gereja Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Diaspora.
Awalnya, kebaktian digelar setiap Minggu di Aula Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Indonesia (UKI), Cawang.
Hanya dalam empat tahun, GKRI Diaspora mengalami pertumbuhan pesat dan pindah ke lokasi baru di Puri Agung, Hotel Sahid Jaya, Jalan Jenderal Sudirman.
Gereja ini bahkan sempat disebut sebagai gereja Pentakosta dengan jumlah jemaat terbanyak pada dekade 1980–1990. Dalam beberapa sesi kebaktian, lebih dari 1.500 orang hadir.
Kepergian pendeta Jusuf Roni menjadi kehilangan besar bagi keluarga, jemaat, dan komunitas Kristen yang mengenalnya sebagai figur tegas, inspiratif, dan penuh kasih.
Sepanjang hidupnya, ia aktif menyampaikan khotbah mengenai ajaran Kristen baik di dalam gereja maupun melalui media digital.
Melalui akun media sosial dan kanal YouTube, almarhum rutin membagikan kesaksian iman, ajaran Alkitab, dan materi apologetika Kristen.
Ia dikenal sebagai pendeta yang mampu menjangkau berbagai kalangan, dari anak muda hingga lansia dengan pesan yang menekankan pentingnya pertobatan dan hidup dalam kasih karunia Tuhan.
Tak hanya sebagai pengkhotbah, pendeta Jusuf Roni juga menjadi saksi hidup akan pemulihan dan perubahan hidup melalui iman.
Ratusan jemaat dan tokoh gereja diperkirakan hadir dalam ibadah pelepasan untuk memberikan penghormatan terakhir.
Meskipun telah berpulang, warisan pelayanan dan pengajaran pendeta Jusuf Roni akan terus hidup.
Ajarannya yang terdokumentasi secara digital dan keberlanjutan pelayanan Gereja Kemah Abraham menjadi jejak abadi dalam perjalanan iman umat.
Penulis: Joenaidi Zidane, Mahasiswa Magang Politeknik Negeri Madiun (PNM)
Editor : Miko