JP Radar Nganjuk - Sebuah insiden tragis menimpa dunia pendidikan yaitu sebuah perahu yang mengangkut tujuh orang mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKN-PPM) Universitas Gadjah Mada (UGM) terbalik karena dihantam gelombang laut yang tiggi serta angin kencang di perairan Debut, Maluku Tenggara pada Selasa (1/7).
Dilansir dari Radar Jogja, Tujuh orang mahasiswa KKN tersebut menaiki satu perahu jenis speedboat yang mengangkut pasir dari Pulau Wahru.
Universitas Gadjah Mada mengonfirmasi bahwa dalam insiden tersebut, lima mahasiswa selamat dan dua lainnya ditemukan meninggal dunia, yaitu Bagus Adi Prayogo dari Fakultas Kehutanan dan Septian Eka Rahmadi dari Fakultas Teknik.
Direktur Pengabdian kepada Masyarakat UGM, Dr. dr. Rustamadji menjelaskan bahwa kegiatan yang dilakukan mahasiswa di laut tersebut adalah bagian dari program revitalisasi terumbu karang menggunakan metode Artificial Patch Reef (APR).
Pasca kejadian, jenazah mahasiswa segera dipulangkan dengan keikutsertaan beberapa pihak termasuk relawan, masyarakat, dan pemerintah daerah setempat.
Pada hari ini, Rabu (2/7), Pihak UGM menggelar konferensi pers di ruang Fortakgama UGM. Dr. Arie Sujito sebagai Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian kepada Masyarakat memberikan ungkapan duka mendalam kepada dua mahasiswa UGM yang tewas dalam insiden perahu terbalik tersebut.
"Mahasiswa kami ini sedang menjalankan amanah intelektual. Kami sangat berduka” ucap Arie dikutip dari Radar Jogja pada Rabu, (2/7).
Lebih lanjut, Arie juga mengucapkan terima kasih kepada kepada pihak-pihak yang dengan cepat melakukan evakuasi, yaitu Tim SAR, BNPB adalah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), masyarakat setempat, dan relawan.
Arie menambahkan bahwa pihak kampus akan terus memberikan bimbingan psikokologis dan logistik kepada lima mahasiswa lain yang selamat juga keluarga korban.
“Kami akan kirim tim psikologi pada hari Jumat” terangnya.
Saat ini, pihak UGM tengah mempertimbangkan apakah proyek KKN di Maluku Tenggara akan tetap dilanjutkan atau tidak, mengingat jika berdasarkan jadwal pelaksanaan, KKN baru akan selesai pada 8 Agustus mendatang.
Arie menegaskan bahwa keselamatan fisik dan kondisi mental mahasiswa adalah hal utama, jika lima mahasiswa lain merasa perlu kembali ke Jogja, maka akan segera difasilitasi, sebaliknya jika ingin tetap melanjutkan KKN maka akan dilakukan pendampingan lebih kuat.
Aspek keselammatan dan penempatan KKN akan diperketat oleh UGM, terutama di wilayah kepulauan atau wilayah yang melalui transportasi laut.
Evaluasi secara menyeluruh akan dilakukan yang mencakup standar operasionalm koordinasi intensif dengan pemerintah setempat, dan mitigasi risiko.
"Ini pelajaran besar bagi kami. Ke depan, kami akan lebih hati-hati” pungkasnya
Editor : Miko