Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Lifestyle Seni & Budaya Opini Khazanah Video

Cerita Tragis Korban Selamat KMP Tunu Pratama Jaya: Tanpa Peringatan, Selamat Berkat Jaket Pelampung

Miko • Jumat, 4 Juli 2025 | 14:41 WIB

Korban selamat tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya dipeluk keluarganya usai diserahkan oleh Tim SAR gabungan di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur
Korban selamat tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya dipeluk keluarganya usai diserahkan oleh Tim SAR gabungan di Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur

Tragedi tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya di Selat Bali menyisakan cerita pilu dari para korban selamat. Mereka mengaku tidak ada peringatan darurat sebelum kapal terbalik. Para penyintas berhasil bertahan hidup karena menemukan jaket pelampung yang mengambang di laut.

Bejo Santoso, salah satu korban selamat asal Banyuwangi, menceritakan bahwa kapal mulai oleng beberapa menit setelah berlayar. "Sekitar tiga menit setelah kapal oleng, langsung terbalik. Saya sempat meloncat dan menemukan jaket pelampung," ungkapnya.

Cerita serupa disampaikan oleh Imron dan Saiful Munir yang berhasil menyelamatkan diri setelah terdorong arus laut ke luar ruang penumpang. Mereka tak mendengar ada pengumuman darurat dari awak kapal.

Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan fokus utama saat ini adalah proses pencarian dan penyelamatan korban. Sementara penyelidikan penyebab kecelakaan akan dilakukan oleh KNKT. Pihaknya juga akan memeriksa ulang keabsahan manifes penumpang karena terdapat korban yang tidak tercantum dalam daftar tersebut.

Salah satunya adalah Afnan Agil Mustafa (3 tahun) dan ibunya Fitri April Lestari yang dinyatakan meninggal dunia. Nama keduanya tidak tercantum dalam manifes awal. Hal serupa juga dialami Helen, yang hingga kini belum menemukan enam anggota keluarganya yang tak masuk daftar penumpang.

KMP Tunu Pratama Jaya
KMP Tunu Pratama Jaya

Kepala Basarnas Mohammad Syafii menegaskan, cuaca buruk dengan gelombang hingga 2,5 meter menyulitkan pencarian. Namun armada laut dan udara tetap dikerahkan, termasuk kapal KN SAR 249 dan helikopter.

Pengamat transportasi dari ITB, Sony Sulaksono, menyoroti lemahnya prosedur keselamatan kapal. Ia menilai pengarahan keselamatan jarang dilakukan di kapal laut, berbeda dengan transportasi udara. Minimnya edukasi dan pengawasan dianggap menjadi akar masalah berulangnya kecelakaan laut.

KNKT dalam catatan investigasi sebelumnya terhadap kecelakaan serupa seperti KMP Rafelia II, Sinar Bangun, dan Yunicee juga menyebut faktor-faktor seperti kelebihan muatan, lemahnya stabilitas kapal, serta minimnya pelatihan awak kapal sebagai penyebab utama.

Saat ini, keluarga korban masih berdatangan ke posko darurat di Pelabuhan Ketapang untuk mencari kabar terbaru. Beberapa dari mereka bahkan pingsan karena terpukul saat mengetahui kabar kehilangan anggota keluarganya.

Tragedi ini kembali mengingatkan pentingnya pembenahan menyeluruh terhadap aspek keselamatan transportasi laut, termasuk disiplin manifes, pelatihan darurat, dan pengawasan ketat terhadap kelayakan kapal.

Hingga Kamis (3/7), total korban ditemukan mencapai 36 orang, dengan rincian 30 selamat dan 6 meninggal dunia. Pencarian terhadap sekitar 30 korban lainnya masih terus dilakukan.

 

Editor : Miko
#knkt #manifest penumpang #KMP Tunu Pratama Jaya #berita nganjuk hari ini #berita hai ini #kapal tenggelam #pelabuhan #ketapang #korban jiwa #selat bali #tenggelam #Cerita Korban Selamat #cuaca #gilimanuk #jaket pelampung