Akhir-akhir ini, Hama wereng sedang marak menyerang puluhan lahan milik petani di Nganjuk. Wereng sendiri merupakan sebutan untuk serangga yang menyerang hampir semua varietas padi, serangga tersebut menghisap cairan pada batang padi sehingga tanaman menjadi kering dan berpotensi gagal panen. Tidak tanggung-tanggung, luas area persawahan yang diserang wereng di Nganjuk mencapai ratusan hektare.
Tak hanya di Nganjuk, para petani di Ponorogo juga menghadapi nasib serupa dan terancam gagal panen setelah puluhan hektare sawah di wilayah Kelurahan Bangunsari dan Desa Winong, Kecamatan Jetis, kini berubah warna. Padi yang semula berwarna hijau segar perlahan menjadi cokelat, memutih, lalu mati dalam waktu singkat.
Dilansir dari Radar Madiun, salah satu petani di Bangunsari, Ahmad Subeki, mengaku serangan wereng di tahun ini terasa jauh lebih parah dibanding sebelumnya. Menurutnya, hama mulai menyerang dari pangkal batang, mengisap cairan hingga rumpun padi mengering total.
"Awalnya hanya beberapa petak saja, tapi dalam dua hari sudah menyebar ke seluruh sawah. Umur padinya baru 50 hari, baru mulai berbulir, sudah rusak semua” ucap Subeki dikutip dari Radar Madiun Jumat (11/7)
Subeki mengatakan bahwa ia sudah mencoba berbagai macam pestisida, namun belum mampu membasmi hama wereng tersebut. biaya perawatan juga justru lebih mahal.
Kerugian makin terasa karena banyak lahan sudah masuk fase berbulir. Bahkan beberapa petani terpaksa merelakan sawahnya dinyatakan puso atau gagal panen total.
Penyemprotan pestisida yang dilakukan terlambat kerap tidak membuahkan hasil. Serangan wereng yang sporadis juga sering sulit dideteksi sejak awal.
Petani lain, Supeno dari Desa Winong, Jetis mengatakan ia sedikit lebih beruntung karena berhasil menyelamatkan sekitar 80 persen lahannya dari total 1,5 hektare setelah cepat melakukan tindakan pencegahan.
"Kalau tidak cepat, pasti habis juga. Modal sudah banyak, padinya sudah berbulir, tinggal tunggu panen," ungkapnya.
Editor : Jauhar Yohanis