Video asusila yang diduga melibatkan oknum guru berinisial RW, asal Kecamatan Woha, Kabupaten Bima, beredar luas di kalangan masyarakat.
Dilansir dari Lombok Post, RW yang baru saja diangkat sebagai guru PPPK di salah satu SDN di Kecamatan Woha kini mendapat penolakan keras dari pihak sekolah, komite, hingga masyarakat setempat.
Informasi yang beredar menyebutkan terdapat belasan video tak senonoh yang memperlihatkan bagian sensitif tubuh RW saat melakukan video call dengan seseorang.
RW diduga tengah berkomunikasi dengan seorang warga asal Kecamatan Monta berinisial N. Keduanya disebut memiliki hubungan dekat.
Akibat tersebarnya video tersebut, warga sekitar sekolah menolak kehadiran RW untuk mengajar. Mereka mendesak pihak sekolah dan Dinas Pendidikan agar RW tidak diterima di sekolah manapun. Penolakan juga datang dari komite sekolah dan tokoh masyarakat setempat.
Siti Hamilah, Kepala SDN Inpres Rabakodo, membenarkan bahwa RW sempat datang melapor ke sekolah pada 4 Juli 2025, usai menerima SK pengangkatan PPPK pada 2 Juli. Namun, sejak video itu beredar pada Mei lalu, penolakan sudah mulai menguat. Bahkan saat melapor ke sekolah, RW sudah didampingi pengacara.
"Komite, warga, dan tokoh masyarakat sudah menyatakan keberatan. Mereka bahkan mengancam akan melakukan aksi demo jika RW tetap mengajar," jelas Siti dikutip dari Lombok Post pada Kamis (24/7).
Pihak sekolah juga sudah menyampaikan kondisi tersebut kepada Koordinator Wilayah Pendidikan dan Dinas Dikbudpora Kabupaten Bima. Rapat bersama antara sekolah, Babinsa, kepala desa, dan masyarakat akhirnya sepakat untuk menolak RW demi menghindari konflik sosial.
“Kami ingin hidup damai tanpa ada unsur sentimen” lanjutnya
Sementara itu, Kepala Dinas Dikbudpora Bima, Zunaidin, menyatakan bahwa saat ini pihaknya masih melakukan mediasi dan menyusun laporan ke Bupati sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan sanksi terhadap RW.
Editor : Jauhar Yohanis