Saifullah Yusuf, Menteri Sosial Indonesia meminta Bank Indonesia (BI) untuk menelusuri rekening para penerima bantuan sosial (bansos) yang terindikasi anomali. Langkah ini dilakukan untuk memastikan dana bansos benar-benar diterima oleh masyarakat yang berhak dan tepat sasaran.
Permintaan itu disampaikan setelah Kementerian Sosial (Kemensos), pihaknya telah melakukan pemadanan data Nomor Induk Kependudukan (NIK) dengan rekening penerima bansos, yang kemudian dicocokkan dengan data PPATK tentang warga yang terafiliasi judi online.
“Kita akan meluncur ke BI untuk minta bantuan BI memeriksa rekening-rekening penerima bansos kita” ucap Saifullah dikutip dari Antara pada Rabu (30/7).
Menurutnya jika terdapat saldo anomali seperti para penerima bansos yang memiliki saldo lebih dari 5 juta. Ia menilai, bantuan sosial seharusnya digunakan untuk kebutuhan pokok sehari-hari. Karena itu, jika dana tersebut tidak dipakai dalam waktu lebih dari tiga bulan, patut dicurigai dan perlu ditelusuri lebih lanjut.
Jika terbukti tak layak, kemensos akan mengalihkan kuota bansos ke masyarakat yang lebih membutuhkan.
“Dana yang tak digunakan dalam tiga bulan menunjukkan ada sesuatu yang tidak wajar. Kita akan alihkan ke penerima lain yang benar-benar layak,” ujarnya.
Saifullah menambahkan, Kemensos sudah menyalurkan bansos berdasarkan pemutakhiran Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) dari BPS serta peninjauan langsung di lapangan. Hasilnya, sekitar dua juta keluarga dinilai tidak lagi memenuhi syarat sebagai penerima bantuan.
Mensos mengatakan bahwa jumlah bansos tidak akan dikurangi, namun dialihkan pada penerima yang lebih membutuhkan. Presiden Prabowo Subianto bahkan memberikan tambahan bantuan sosial untuk lebih dari 18 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM).
Editor : Jauhar Yohanis