JP RADAR NGANJUK- Kini remaja gen z di hebohkan dengan adanya fitur sora AI, tak perlu jumpa langsung dengan idola saat konser, fans meet atau bahkan menunggu di bandara, karena sorai dapat membantu kamu yang ingin berfoto dengan idol kesayangan tapi belum ada budget dan waktunya.
Baca Juga: Profil Sam Altman, CEO OpenAI: Perjalanan dari Drop Out Kuliah hingga Jadi Raja AI Dunia
Sora teknologi kecerdasan buatan Open AI yang dapat membuat video atau foto terlihat lebih realistis dan interaktif. Namun yang membuatnya viral bukan sekedar kemampuanya menciptakan konten visual canggih melainkan fitur manipulasi cerita yang bisa menggabungkan wajah pengguna dan sosok idola, seolah mereka sedang berinteraksi atau berfoto bersama.
Mulai dari foto liburan bareng Jungkook BTS, momen makan malam romantis dengan Jennie BLACKPINK, sampai adegan duduk berdampingan di kereta dengan Taylor Swift semua bisa dibuat hanya dengan mengunggah satu foto wajah.
Baca Juga: Agen AI Membuka Era Baru dalam Teknologi
Fenomena ini kian virAl di media sosial lewat unggaha di TikTok dan Instagra. Dengan tagar seperti #Sora AI, #AIwithidol, dan #MyAIfanpic, ribuan pengguna membagikan hasil editan foto mereka bersama idola mereka. Tak sedikit pula yang mengedit scenario kencan, behind the scene konser, hingga adegan drama ala K-Pop dan Hollywood.
Walaupun trend ini menghibur dan kreatif, trend ini juga mengandung diskusi etika. Beberapa mengingatkan pentingnya penggunaan AI secara bertanggung jawab, terutama dalam konteks privasi public figure dan potensi penyebaran misinformasi jika digunakan di luar batas.
Baca Juga: Di Balik Kecanggihan AI, CEO OpenAI Ingatkan Bahayanya Ketergantungan AI
Meski demikian, tak dapat dipungkiri bahwa Sora AI membuka peluang baru di bidang industri kreatif, terutama konten digital dan fan culture. Banyak kreator kini menawarkan jasa “foto bareng idola” berbasis AI sebagai ladang cuan baru.
Dengan tren ini, interaksi antara penggemar dan idola pun bertransformasi: dari yang semula hanya di layar, kini terasa lebih personal meski tetap dalam dunia virtual.
Penulis: Sabilatul Nur Hartanti- Mahasiswa UIN SATU Tulungagung
Editor : Jauhar Yohanis