JP Radar Nganjuk - Ivan Yustiavandana, Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), mendatangi Istana Negara Jakarta, Rabu (30/7).
Kehadirannya untuk bertemu Presiden Prabowo Subianto diduga terkait polemik pemblokiran rekening dormant, atau rekening yang tidak aktif selama tiga bulan terakhir.
Dilansir dari Jawa Pos, Ivan enggan menjelaskan secara rinci isi pembahasan dalam pertemuan tersebut. Ia hanya menyarankan agar pertanyaan soal pertemuan itu ditujukan kepada Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi.
Dalam hasil analisis lima tahun terakhir, PPATK menemukan peningkatan signifikan penyalahgunaan rekening dormant.
Rekening yang tidak aktif kerap menjadi sarana transaksi ilegal seperti penampungan dana hasil kejahatan, korupsi, narkoba, hingga praktik jual beli rekening.
“Langkah ini bukan tanpa alasan, dalam 5 tahun terakhir marak penggunaan rekening dormant tanpa diketahui pemiliknya menjadi target kejahatan” ungkapnya.
Ivan menambahkan bahwa banyak kasus di mana rekening tersebut diambil alih secara ilegal, baik oleh oknum internal bank maupun pihak tak bertanggung jawab.
Dana dalam rekening itu pun terkuras habis karena tetap dikenakan biaya administrasi hingga akhirnya ditutup oleh pihak bank.
Baca Juga: Jangan Sampai Diblokir! Begini Cara Menjaga Rekening Tetap Aktif Menurut PPATK
PPATK mencatat ada lebih dari 140 ribu rekening tak aktif selama lebih dari satu dekade dengan nilai mencapai Rp428 miliar.
Atas dasar itu, Ivan mendorong perbankan untuk segera melakukan verifikasi dan pembaruan data nasabah.
Menurutnya, celah ini bisa menjadi pintu masuk kejahatan keuangan yang merugikan masyarakat dan perekonomian nasional.
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira