Radar Nganjuk - Dunia pers kembali berduka setelah serangan udara yang diluncurkan militer Israel di wilayah Jezzine, Lebanon Selatan, pada Sabtu (28/3/2026).
Insiden tragis ini merenggut nyawa tiga pekerja media yang tengah bertugas, memicu kemarahan besar dari otoritas Lebanon dan sorotan tajam dunia internasional.
Baca Juga: Indonesia Kutuk Keras Serangan Israel di Lebanon Sebabkan Satu Prajurit Garuda Gugur
Serangan tersebut menghantam lokasi para jurnalis saat mereka sedang melakukan peliputan terkait eskalasi konflik di perbatasan. Berikut adalah identitas para jurnalis yang gugur dalam insiden tersebut:
-
Al Shouaib: Reporter senior dari stasiun televisi Al-Manar.
-
Fatima Fatouni: Jurnalis dari stasiun televisi Al-Mayadeen.
-
Mohammed Fatouni: Juru kamera sekaligus saudara laki-laki dari Fatima Fatouni.
Ketiganya dilaporkan tewas di kawasan Jezzine akibat hantaman rudal yang menyasar titik pengamatan mereka. Kematian para jurnalis ini menambah daftar panjang risiko mematikan bagi pekerja media di zona konflik Timur Tengah.
Baca Juga: Markas Kontingen Indonesia di Lebanon Dihantam Artileri Israel, Satu Penjaga Perdamaian Gugur
Kematian para jurnalis ini memicu gelombang kecaman dari pucuk pimpinan Lebanon yang menilai serangan tersebut sebagai pelanggaran berat terhadap hukum internasional.
-
Presiden Joseph Aoun: Menyatakan kemurkaan mendalam dan mengecam keras tewasnya ketiga jurnalis tersebut. Otoritas Lebanon secara tegas menyebut insiden ini sebagai bentuk kejahatan perang.
-
Perdana Menteri Nawaf Salam: Menegaskan bahwa penargetan terhadap jurnalis adalah pelanggaran serius terhadap konvensi internasional yang seharusnya melindungi pekerja media di medan perang.
Tragedi ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan antara militer Israel dan kelompok Hizbullah.
Penggunaan kekuatan udara yang menyasar infrastruktur sipil dan area kerja pers telah meningkatkan kekhawatiran akan krisis kemanusiaan yang lebih luas di Lebanon Selatan.
Komunitas internasional kini didorong untuk segera melakukan investigasi independen atas insiden berdarah di Jezzine ini.
Editor : Miko