Dalam semalam, pedagang angkringan seksi bisa meraup keuntungan ratusan ribu rupiah. Karena itu, angkringan seksi semakin menjamur di Pasar Baru Kertosono.
"Paling sepi itu semalam berjualan itu untungnya Rp 100 ribu," ujar Bunga (bukan nama sebenarnya, Red), pedagang asal Kertosono. Jika tidak sedang hujan, dia bisa membawa pulang uang lebih dari Rp 100 ribu. “Bisnis angkringan itu untungnya banyak. Apalagi dari minuman,” ujarnya kepada wartawan koran ini.
Namun hitung-hitungan itu hanya muncul ketika cuaca sedang cerah. Karena jika sedang hujan, Bunga dan pemilik angkringan lainnya akan memilih untuk libur.
Nah, saat ini, cuaca sedang cerah-cerahnya. Otomatis Bunga selalu panen cuan.Bayangkan saja, setiap harinya, Bunga bisa mendapat untung hingga Rp 100 ribu. Jumlah tersebut biasa didapat Bunga di hari biasa. Sedangkan, di akhir pekan dan libur panjang, untung yang didapat bisa berlipat ganda.
Sebagai contoh, di akhir masa libur sekolah lalu, Bunga bisa mendapat untung hingga Rp 300 ribu per malamnya!
Angka tersebut tentu sangat menggiurkan. Bayangkan saja, ketika Bunga bekerja selama 30 hari per bulan, artinya Bunga bisa membawa pulang uang hingga lebih dari Rp 3 juta. Jauh di atas upah minimum regional (UMR) Kabupaten Nganjuk yang hanya Rp 2,56 juta.
Hitung-hitungan itu tentu sangat menguntungkan bagi Bunga. Terlebih, setiap harinya Bunga hanya bekerja dari selepas Maghrib hingga tengah malam. Hanya sekitar enam jam. Sedangkan, waktu di pagi hingga sore hari bisa digunakan untuk pekerjaan lain. “Modalnya juga cukup sedikit. Paling mahal ya beli gerobaknya. Sedangkan retribusi per harinya cuman dua ribu,” tambahnya.
Selain itu, Bunga tak terikat dengan target. Dirinya bisa bekerja kapanpun dia mau. Bahkan Bunga bisa pulang sewaktu-waktu ketika untung yang dikumpulkan dianggap sudah cukup banyak. “Makanan dan minumannya juga harus pilih yang bisa disimpan. Biar tidak basi, biar tidak rugi,” tandasnya.
