MALANG, RADARNGANJUK.JAWAPOS.COM– Wilayah Kabupaten Malang dan sekitarnya diguncang gempa bumi tektonik pada Selasa (28/7/2026) malam pukul 20.29 WIB. Hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter pemutakhiran dengan magnitudo M 4,2.
Kepala Stasiun Geofisika (Stageof) Sleman, Ardhianto Septiadhi, menyampaikan bahwa pusat gempa atau episenter terletak di laut, berjarak 102 km arah Tenggara Kabupaten Malang.
Baca Juga: Gempa M 6,7 Guncang Palu Sulawesi Tengah, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami
"Episenter gempa bumi terletak pada koordinat 9,023° LS dan 112,82167° BT dengan kedalaman 22 kilometer," ujar Ardhianto dalam keterangan resminya, Selasa (28/7/2026).
Ardhianto menjelaskan, dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, peristiwa ini merupakan jenis gempa bumi dangkal.
"Gempa ini terjadi akibat adanya aktivitas sesar aktif di bawah laut," jelasnya.
Baca Juga: BMKG Sleman Catat 771 Gempa di Wilayah Regional VII Sepanjang Maret 2026
Guncangan gempa bumi ini dirasakan di sejumlah wilayah di Jawa Timur, meliputi: Kabupaten Malang, Blitar, Lumajang, dan Jember.
Skala intensitas guncangan tercatat berada pada skala II - III MMI, di mana getaran dirasakan nyata di dalam rumah dan terasa seakan-akan ada truk yang sedang melintas.
Baca Juga: Gempa M 7,6 Guncang Malut dan Sulut, BMKG Keluarkan Peringatan Dini Tsunami
Catatan kerusakan dan gempa susulan, hingga berita ini diturunkan, BMKG mengonfirmasi belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa tersebut. Selain itu, berdasarkan hasil monitoring hingga pukul 20.41 WIB, belum menunjukkan adanya aktivitas gempa bumi susulan (aftershock).
BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Baca Juga: Gempa Magnitudo 5,1 Goyang Bumi Maluku Barat Daya, BMKG: Waspada Susulan!
"Masyarakat diimbau untuk menghindari bangunan yang retak atau rusak akibat gempa. Periksa dan pastikan bangunan tempat tinggal Anda cukup tahan gempa atau tidak ada kerusakan yang membahayakan kestabilan sebelum kembali ke dalam rumah," imbau Ardhianto.
Sumber : BMKG