Stok di Pangkalan Diklaim Aman, Warga Keluhkan Kelangkaan dan Harga Naik
NGANJUK, JP Radar Nganjuk - Pengguna elpiji subsidi di Kabupaten Nganjuk sedang kebingungan. Pasalnya, sejak sekitar dua minggu terakhir, elpiji 3 kilogram (kg) mulai langka di pasaran. Kalaupun tersedia, harganya mengalami kenaikan.
Hal itu disampaikan Sumarni, 40, warga Desa Sukorejo, Kecamatan Loceret. Ia mengaku kesulitan mendapatkan elpiji subsidi dalam beberapa waktu terakhir.
"Sudah dua minggu ini mulai susah carinya," ujar ibu rumah tangga (IRT) tersebut.
Sumarni menjelaskan, biasanya ia membeli elpiji di toko kelontong dekat rumah. Sebelum terjadi kelangkaan, stok selalu tersedia dan harga tidak pernah melebihi Rp20 ribu per tabung.
Baca Juga: Bos Pengoplos Elpiji Subsidi di Nganjuk Divonis 11 Bulan Penjara, Dua Karyawan Ikut Dihukum
Namun sejak dua minggu terakhir, stok di toko langganannya sering kosong. Jika tersedia, harga sudah naik menjadi sekitar Rp22 ribu hingga Rp23 ribu per tabung.
"Karena stoknya langka, mau tidak mau ya tetap beli," tambahnya.
Kelangkaan elpiji juga dibenarkan Yanto, 66, pemilik toko kelontong di Desa Sukorejo, Kecamatan Loceret.
Menurutnya, pasokan elpiji yang diterima dari agen mengalami penurunan dalam beberapa hari terakhir.
Sebelumnya, ia bisa memperoleh lebih dari 20 tabung elpiji setiap pekan. Kini, jatah yang diterimanya hanya sekitar 10 tabung.
"Dulu bisa ambil sampai 20 lebih. Sekarang dibatasi hanya 10 saja," ujarnya.
Baca Juga: LPG 3 Kg Langka di Nganjuk: Pengecer Harus Nunggu 3 Minggu, Warga Mulai Kesulitan
Yanto juga mengakui harga elpiji ikut mengalami kenaikan akibat stok yang terbatas.
"Saya juga tidak tahu pasti kenapa elpiji jadi langka beberapa hari terakhir," tandasnya.
Sementara itu, Manager Commrel CSR Pertamina MOR V, Ahad Rahedi, membenarkan adanya informasi mengenai kelangkaan elpiji di masyarakat.
Namun, menurutnya, kondisi tersebut bukan disebabkan berkurangnya pasokan dari Pertamina.
"Stok tidak pernah berubah. Pertamina sudah menyalurkan elpiji sesuai dengan kebutuhan tiap-tiap daerah," ujarnya.
Baca Juga: Pukeswan Nganjuk Digerojok Rp 530 Juta
Ahad menjelaskan, elpiji subsidi memang diperuntukkan bagi masyarakat kurang mampu. Namun di lapangan masih ditemukan penggunaan oleh masyarakat yang sebenarnya tidak berhak menerima subsidi.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat distribusi elpiji subsidi menjadi tidak tepat sasaran sehingga memengaruhi ketersediaan di tingkat masyarakat.
"Kami akan cek di lapangan. Semoga penggunaan elpiji bisa lebih tepat sasaran," tandasnya. (wib/tyo)