NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Kelangkaan elpiji subsidi masih terjadi di Kabupaten Nganjuk. Diduga kelangkaan terjadi karena penggunaan elpiji yang tidak tepat sasaran. Salah satunya yakni digunakan untuk menjadi bahan bakar pompa air di sawah.
Manager Commrel CSR Pertamina Mor V Ahad Rahedi mengatakan, dari pemeriksaan di lapangan, masih banyak masyarakat yang menggunakan elpiji subsidi sesuai dengan peruntukannya. “Elpiji langka karena penggunaan yang tidak tepat sasaran,” ujarnya.
Hal itu juga banyak ditemui di beberapa daerah di Kabupaten Nganjuk. Terutama di beberapa daerah persawahan yang saat ini sedang mengalami kesulitan air. Nah, saat tidak ada air sungai, banyak petani yang menggunakan pompa air. Sayangnya banyak pompa air yang dimodifikasi. Pompa air tersebut tidak menggunakan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar. Melainkan, menggunakan elpiji.
Menurut Ahad, hal itu menyalahi aturan. Karena elpiji subsidi tidak diperuntukkan untuk mengairi sawah. Melainkan, hanya untuk rumah tangga hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Oleh karena itu, Ahad mengimbau kepada pemilik sawah untuk tidak melakukan hal tersebut. Sebagai gantinya, pemilik sawah bisa tetap menggunakan BBM jenis solar. Entah itu solar subsidi atau non subsidi. Selain itu, pemilik sawah bisa menggunakan elpiji non subsidi. “Kami akan sosialisasikan ke para petani untuk tetap menggunakan solar untuk pompa air,” tandasnya.
Sementara itu, Ri, 40, petani Kecamatan Sukomoro mengatakan, mayoritas petani di desanya masih menggunakan solar untuk bahan bakar pompa air. Meski demikian, dirinya tak menampik ada beberapa petani yang menggunakan elpiji subsidi untuk bahan bakar pompa air.
Umumnya penggunaan elpiji subsidi hanya berlangsung selama musim kemarau. Karena di musim itu, air sungai di Desa Sumengko sedang mengering. Mau tak mau para petani harus menggunakan air tanah untuk mengairi sawah.
Lebih lanjut, Ri mengatakan ada alasan terkait penggunaan elpiji untuk bahan bakar pompa air. Alasan utamanya karena elpiji subsidi lebih mudah ditemukan dibanding dengan solar subsidi. “Kalau solar non-subsidi tentu harganya jauh lebih mahal,” ujarnya. (wib/tyo)
Editor : rekian