Suara Terlalu Keras Berbahaya untuk Kesehatan Pendengaran

Novanda Nirwana • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 05:30 WIB
BERBAHAYA: Dancer berjoget dengan diiringi musaik sound horeg tahun lalu. Di karnaval HUT ke-81 Kemerdekaan RI, sound horeg dilarang tampil Polres Nganjuk. (novanda nirwana/jprk)
BERBAHAYA: Dancer berjoget dengan diiringi musaik sound horeg tahun lalu. Di karnaval HUT ke-81 Kemerdekaan RI, sound horeg dilarang tampil Polres Nganjuk. (novanda nirwana/jprk)

SOUND horeg tidak hanya berpotensi menggangu keamanan dan ketertiban umum. Lebih dari itu, suara keras yang dihasilkan oleh sound horeg dapat menyebabkan masalah pada telinga.

Dokter Spesialis Telinga Hidung Tenggorok (THT) RS Bhayangkara Nganjuk dr. Woro Safitri mengatakan, risiko gangguan pendengaran bergantung pada seberapa besar intensitas suara serta jarak seseorang dengan sumber suara.

“Kalau mendengarkan dari jarak yang dekat, pasti akan mengganggu kesehatan telinga,” ujarnya.

Menurut Woro, paparan suara yang terlalu keras dapat mengganggu saraf pendengaran. Dampaknya bisa berupa penurunan kemampuan mendengar hingga telinga berdenging atau tinnitus.

Jika paparannya sangat keras dan terjadi berulang, kerusakan pendengaran bahkan bisa bersifat permanen. “Bahkan ada yang fatal. Suara yang terlalu kencang bisa menjadi tuli permanen juga,” jelas Woro.

Dia menjelaskan, prinsip menjaga kesehatan pendengaran juga dapat mengacu pada rule of sixty, yakni panduan penggunaan headset atau earphone dengan membatasi volume maksimal sekitar 60 persen dan durasi pemakaian tidak lebih dari 60 menit.

Prinsip tersebut, lanjut Woro, juga relevan untuk mengantisipasi risiko paparan suara keras dari sound system.

Semakin dekat jarak dengan sumber suara dan semakin lama durasi paparan, semakin besar pula risiko gangguan pendengaran.

“Paparan suara terlalu keras bisa menimbulkan gangguan pendengaran noice induced hearing loss. Untuk mengurangi dampak gangguan ini bisa diantisipasi dengan pemakaian APD (alat pelindung diri) seperti ear plug,” tambahnya.

Woro menggarisbawahi, kekhawatiran suara keras paling besar terjadi pada anak-anak.

Sebab, apabila gangguan pendengaran sudah terjadi sejak usia dini, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi kualitas pendengaran mereka hingga usia dewasa dan lanjut “Risiko yang lebih besar dikhawatirkan itu terutama pada anak-anak.

Anak dengan gangguan pendengaran bisa memengaruhi kualitas belajar di kelas karena daya tangkapnya akan menurun. Selain itu bayangkan saja ketika usia kita 40 tahun secara fisiolois telinga kita akan mengalami penurunan pendengaran.

Kalau masih anak-anak sudah terjadi penurunan pendengaran, bayangkan saat usia lanjut bagaimana?,” pungkasnya. (nov/wib)

 

Editor : Miko
gangguan pendengaran kesehatan telinga tinnitus suara keras sound horeg