Lima Hektare Hutan di Nganjuk Terbakar, Warga Diminta Waspada Angin Kencang

Karen Wibi • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 16:22 WIB
ASAP MENGEPUL: Puncak Gunung Wilis terlihat terbakar kemarin. Kebakaran diduga karena dampak kekeringan dan suhu panas yang melanda Kabupaten Nganjuk. (karen wibi/jprk)
ASAP MENGEPUL: Puncak Gunung Wilis terlihat terbakar kemarin. Kebakaran diduga karena dampak kekeringan dan suhu panas yang melanda Kabupaten Nganjuk. (karen wibi/jprk)

NGANJUK, JP Radar Nganjuk – Kebakaran hutan kembali terjadi di kawasan Gunung Wilis. Dari total 16 hektare hutan yang terbakar beberapa hari lalu, sekitar lima hektare di antaranya berada di wilayah Kabupaten Nganjuk.

Kondisi tersebut membuat masyarakat di sekitar kawasan Gunung Wilis diminta lebih waspada. Sebab, potensi kebakaran hutan diperkirakan kembali meningkat dalam beberapa hari ke depan seiring angin yang bertiup cukup kencang.

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kabupaten Nganjuk Iwan Setiawan mengatakan, angin kencang menjadi salah satu faktor yang dapat memperbesar risiko kebakaran hutan.

“Angin kencang dapat meningkatkan potensi kebakaran hutan,” ujarnya.

Menurut Iwan, kebakaran yang terjadi beberapa hari lalu menghanguskan sekitar 16 hektare kawasan hutan di Gunung Wilis. Dari luasan tersebut, lima hektare berada di wilayah Nganjuk, sedangkan 11 hektare lainnya masuk wilayah Kabupaten Kediri.

Meski kebakaran telah berakhir, kondisi di lapangan masih perlu diwaspadai. Terlebih, Nganjuk masih berada dalam periode musim kemarau yang membuat vegetasi lebih mudah kering.

TERBAKAR: Puncak Gunung Wilis sempat terbakar. BMKG terus pantau kondisi di Kabupaten Nganjuk. (karen wibi/jprk)
TERBAKAR: Puncak Gunung Wilis sempat terbakar. BMKG terus pantau kondisi di Kabupaten Nganjuk. (karen wibi/jprk)

Angin Muson Bikin Kondisi Lebih Kering

Iwan menjelaskan, angin kencang yang diperkirakan terjadi dalam beberapa hari ke depan berkaitan dengan aktivitas angin Muson yang bergerak dari timur hingga tenggara.

Angin tersebut berasal dari wilayah Australia menuju Indonesia akibat adanya perbedaan tekanan udara. Pada musim kemarau, kondisi ini dapat membuat angin terasa lebih kencang sekaligus membawa udara yang relatif kering.

“Angin Muson di musim kemarau akan membuat angin lebih kencang dan terasa dingin,” jelasnya.

Selain angin kencang, musim kemarau yang masih berlangsung hingga Oktober turut membuat kondisi lingkungan lebih kering.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko api cepat menjalar apabila terjadi kebakaran di kawasan hutan atau lahan.

Iwan juga menyebut fenomena El Nino sebagai salah satu faktor yang dapat membuat kondisi atmosfer di Indonesia menjadi lebih kering.

Warga Diminta Hati-Hati dengan Api

Melihat kondisi tersebut, masyarakat diminta tidak lengah. Aktivitas yang menggunakan api, terutama di sekitar kawasan hutan dan lahan kering, perlu dilakukan dengan sangat hati-hati.

Api kecil sekalipun berpotensi menjadi masalah ketika berada di lingkungan yang kering dan disertai angin kencang.

Karena itu, masyarakat di sekitar Gunung Wilis diharapkan ikut menjaga kawasan hutan dan segera melaporkan apabila melihat titik api atau asap yang mencurigakan.

“Semoga tidak ada lagi kebakaran di Kabupaten Nganjuk,” pungkas Iwan. (wib/tyo)

Editor : Miko
kebakaran hutan Nganjuk musim kemarau Nganjuk bmkg nganjuk gunung wilis