Erupsi Anak Krakatau, Abu Vulkanik Bisa Sampai Nganjuk? Ini Penjelasan BMKG

Shinta Nurma Ababil • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 15:36 WIB
Gunung Anak Krakatau Erupsi Beberapa Waktu Lalu
Gunung Anak Krakatau Erupsi Beberapa Waktu Lalu

NGANJUK – Erupsi Gunung Anak Krakatau membuat sebaran abu vulkanik terpantau di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut turut menimbulkan pertanyaan di Jawa Timur, termasuk Nganjuk, mengenai kemungkinan abu vulkanik terbawa angin hingga wilayah tersebut.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut abu vulkanik Gunung Anak Krakatau memang berpotensi bergerak lebih jauh. Namun, apakah sampai ke Nganjuk atau wilayah Jawa Timur lainnya sangat bergantung pada arah angin di berbagai lapisan atmosfer.

Plt Deputi Bidang Meteorologi BMKG Andri Ramdhani mengatakan perubahan arah angin menjadi faktor penting dalam menentukan ke mana abu vulkanik akan bergerak.

“Untuk kemungkinan abu vulkanik mencapai Jawa Tengah dan Jawa Timur, secara meteorologis hal tersebut sangat bergantung pada perubahan arah angin di berbagai lapisan atmosfer,” ujar Andri, Senin (7/9/2026).

Abu Vulkanik Bisa Bergerak Jika Arah Angin Berubah

Menurut BMKG, hasil pemantauan satelit dan radar cuaca menunjukkan konsentrasi abu vulkanik masih berada di wilayah Jawa bagian barat dan Sumatra bagian selatan.

Meski begitu, kondisi atmosfer tidak selalu tetap. Perubahan arah dan kecepatan angin di lapisan atmosfer dapat membuat sebaran abu bergerak ke wilayah yang lebih jauh.

“Apabila terjadi perubahan pola angin yang mendukung, sebaran abu dapat bergerak ke wilayah yang lebih jauh,” imbuh Andri.

Karena itu, kemungkinan abu vulkanik mencapai Jawa Tengah hingga Jawa Timur, termasuk Nganjuk, belum bisa dipastikan hanya berdasarkan arah sebaran saat ini.

BMKG juga menyebut durasi abu vulkanik bertahan di udara sangat bergantung pada aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau serta kondisi angin di wilayah sekitarnya.

Arah Angin Berbeda di Setiap Ketinggian

Berdasarkan pemodelan kondisi atmosfer pada 6 September 2026 pukul 16.00 WIB, arah angin di sekitar Gunung Anak Krakatau tercatat berbeda pada sejumlah lapisan.

Di lapisan bawah, angin bergerak dari arah tenggara menuju selatan. Sementara di lapisan menengah, angin bergerak dari barat laut menuju utara.

Adapun di lapisan atas, angin bertiup dari utara menuju timur laut.

Kecepatan angin yang terpantau berada pada kisaran 2 hingga 30 knot.

Perbedaan arah angin pada setiap lapisan tersebut membuat pergerakan abu vulkanik tidak selalu mengikuti satu arah yang sama. Kondisi inilah yang menjadi salah satu faktor penting dalam pemodelan sebaran abu.

BMKG mengingatkan masyarakat di wilayah yang terdampak maupun yang berpotensi terkena sebaran abu agar tetap mengikuti informasi resmi.

“Masyarakat di wilayah yang terdampak atau berpotensi terdampak sebaiknya tetap menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, terutama selama masih terdapat paparan abu vulkanik,” pesan Andri.

Aktivitas Gunung Semeru Juga Dipantau

Di Jawa Timur, aktivitas Gunung Semeru juga menjadi perhatian. Gunung yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang tersebut masih berstatus Level III atau Siaga.

Berdasarkan laporan Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) PVMBG periode 6 September 2026 pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, sejumlah aktivitas kegempaan masih tercatat.

Terdapat 30 kali gempa letusan atau erupsi dengan amplitudo 10–23 mm dan durasi 75–151 detik.

Selain itu, tercatat empat kali gempa guguran dengan amplitudo 2–3 mm dan durasi 39–47 detik.

Gempa hembusan juga tercatat sebanyak enam kali dengan amplitudo 2–7 mm dan durasi 34–69 detik. Sementara gempa tektonik jauh terjadi satu kali dengan amplitudo 10 mm, S-P 30 detik, dan durasi 71 detik.

Masyarakat Nganjuk dan wilayah Jawa Timur lainnya disarankan tidak panik, tetapi tetap mengikuti perkembangan informasi dari BMKG dan instansi terkait.

Editor : Hadi Sujatmikho
Gunung Anak Krakatau abu vulkanik Nganjuk erupsi Anak Krakatau bmkg nganjuk gunung semeru