NGANJUK, JP Radar Nganjuk – Prestasi membanggakan ditorehkan Kabupaten Nganjuk setelah mencatatkan nilai transaksi Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) tertinggi se-Indonesia. Menariknya, capaian fantastis tersebut diraih di saat operasional koperasi desa di Nganjuk belum berjalan 100 persen. Dari total 284 unit yang didirikan, tercatat masih ada 163 KDMP yang belum beroperasi.
Bupati Nganjuk Marhaen Djumadi mengungkapkan, saat ini baru 121 unit KDMP yang aktif melayani masyarakat di desa-desa. Kendati demikian, perputaran ekonomi yang dihasilkan sudah melesat sangat tinggi dibanding daerah lain di tanah air.
Baca Juga: Transaksi KMP di Nganjuk Tertinggi, Omzet Berhasil Tembus Rp 15,2 M
Per 15 September, Kabupaten Nganjuk membukukan nilai transaksi mencapai Rp 15,2 miliar. Jumlah ini unggul telak di atas Kabupaten Tuban di peringkat kedua dengan nilai transaksi Rp 11,1 miliar, disusul Kota Kupang (Rp 8,5 miliar), dan Kota Makassar sebesar Rp 6,28 miliar.
Alasan 163 Unit KDMP di Nganjuk Belum Dibuka (Ubah format baris ini menjadi H2 di toolbar)
Terkait ratusan unit koperasi yang masih tutup, Marhaen menjelaskan kendala utama bukan pada izin atau fisik gedung, melainkan kesiapan operasional di lapangan. Sejumlah titik KDMP saat ini masih dalam proses pemenuhan tenaga karyawan serta menunggu pengiriman stok barang komoditas yang akan dijual.
Orang nomor satu di Pemkab Nganjuk itu menegaskan, seluruh bangunan fisik gerai KDMP di Kabupaten Nganjuk sebenarnya sudah berstatus siap pakai. Pemerintah daerah pun terus berkoordinasi intensif dengan pemerintah pusat agar pembukaan operasional bisa segera dieksekusi serentak.
Baca Juga: Luas KMP Harus 1.000 Meter Persegi
“Perizinan 163 KDMP sudah selesai semua, bangunan fisik sudah ready. Beroperasi tinggal menunggu hari H saja, targetnya tahun ini tuntas seluruhnya,” tegas Kang Marhaen.
Dengan capaian transaksi Rp 15,2 miliar dari 121 gerai saja, ia optimistis perputaran ekonomi di Nganjuk akan melonjak berkali lipat saat seluruh 284 KDMP resmi beroperasi penuh, terutama untuk menyerap produk pertanian, sembako, dan produk UMKM lokal masyarakat Nganjuk. (wib/tyo)
Editor : Miko