MBAK Sri adalah siswi di salah satu SMK di Kabupaten Nganjuk. Tidak ada yang aneh dari perempuan itu. Kecuali hubungannya dengan orang tua.
Ya, Mbak Sri memiliki hubungan yang kurang baik dengan orang tuanya. Mereka tidak dekat. Sering berantem.
Setelah ujian akhir semester selesai, Mbak Sri harus mengambil rapor di sekolah. Namun karena tidak dekat dengan orang tuanya, Mbak Sri jadi canggung. Dia enggan untuk meminta tolong orang tuanya untuk mengambilkan rapor di sekolah.
Masalah itu jadi berlarut-larut. Hingga suatu ketika, mau tak mau, Mbak Sri harus mengambil rapor. Dia lalu mencari ide.
Namun tetap buntu. Sempat dia ingin meminta tolong orang tua dari temannya. Sayangnya, hasil nihil. Orang tua dari temannya itu enggan untuk mengambilkan rapor. “Saya jadi bingung siapa yang mengambilkan rapor,” tambahnya.
Setelah pikir-pikir panjang, Mbak Sri akhirnya diberi ide oleh temannya. Yaitu untuk menyewa Mbak Pur. Loh kok Mbak Pur? Iya benar, Mbak Pur. Namun Mbak Pur bukan disewa untuk mengerjakan hal yang aneh-aneh. Melainkan untuk mengambilkan rapor milik Mbak Sri.
Tentu Mbak Pur juga mematok tarif untuk pekerjaan itu. Meski hanya mengambilkan rapor, namun Mbak Pur meminta bayaran cukup tinggi.
Yaitu Rp 250 ribu. Alasannya karena pekerjaan tersebut di luar jam kerjanya. Karena sesuai standar operasional prosedur (SOP), Mbak Pur kerjanya mulai jam tujuh malam sampai tiga pagi.
Rp 250 ribu bukan nilai yang kecil bagi Mbak Sri. Namun setelah dipikir-pikir, Mbak Sri mengiyakan harga tersebut. Setelah deal dan dibayar, Mbak Pur langsung mengerjakan tugasnya.
Tidak ada yang aneh dalam proses pengambilan rapor. Semuanya berjalan dengan lancar. Hingga rapor milik Mbak Sri yang nilainya pas-pas an itu bisa diambil tanpa membuat si guru curiga.
Otomatis, kehadiran Mbak Pur dengan dandanan menornya membuat dia jadi pusat perhatian. Orang tua wali murid teman Mbak Sri dibuat geleng-geleng. Biyuh-Biyuh uayune. (wib/tyo)
Editor : Miko