Berita Seputar Nganjuk Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya

Dari NU Untuk NU, Inilah Sejarah Berdirinya Pagar Nusa di Nganjuk

Elna Malika • Rabu, 16 April 2025 - 01:45 WIB
Dari NU Untuk NU, Inilah Sejarah Berdirinya Pagar Nusa di Nganjuk
Dari NU Untuk NU, Inilah Sejarah Berdirinya Pagar Nusa di Nganjuk

 

JP Radar Nganjuk - Pencak silat sebagai warisan budaya Indonesia memiliki tempat khusus di hati masyarakat Nganjuk, Jawa Timur. Salah satu perguruan yang berperan besar dalam melestarikan seni bela diri ini adalah Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa.

Kehadiran Pagar Nusa di Nganjuk tidak lepas dari dinamika perkembangan silat di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) secara nasional, yang kemudian berakar kuat di daerah ini melalui dedikasi para ulama dan pendekar lokal.

Pagar Nusa lahir dari kegelisahan para kiai NU terhadap menyusutnya peran pencak silat di pesantren, yang dulunya menjadi bagian tak terpisahkan dari pendidikan santri.

Pada 27 September 1985, musyawarah di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, melahirkan gagasan pembentukan wadah silat di bawah NU.

Musyawarah ini dihadiri tokoh-tokoh pencak silat dari berbagai daerah, termasuk Nganjuk, yang turut menyumbangkan pemikiran. Pada 3 Januari 1986, di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Pagar Nusa resmi berdiri dengan nama awal Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama (IPSNU), dipimpin oleh KH. Abdulloh Maksum Jauhari sebagai Ketua Umum pertama.

Nama “Pagar Nusa,” yang berarti pelindung NU dan bangsa, diusulkan oleh KH. Anas Thohir, sementara lambangnya dirancang oleh KH. Suharbillah dengan kalimat “Laa ghaaliba illa billah” sebagai simbol kepasrahan kepada Allah.

Di Nganjuk, Pagar Nusa mulai berkembang seiring penyebaran cabang-cabang perguruan di Jawa Timur pasca pendiriannya pada 1986.

Meskipun tidak ada dokumentasi pasti tentang tanggal berdirinya cabang Nganjuk, kehadiran tokoh-tokoh silat dari Nganjuk dalam musyawarah awal di Tebuireng menunjukkan bahwa daerah ini telah memiliki tradisi silat yang kuat di lingkungan pesantren NU.

Para kiai dan pendekar lokal, yang sebagian besar terafiliasi dengan NU, memainkan peran penting dalam mendirikan padepokan dan kelompok latihan Pagar Nusa di berbagai desa dan kecamatan di Nganjuk.

Pagar Nusa Nganjuk berkembang melalui pendekatan yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman, budaya, dan bela diri. Perguruan ini tidak hanya fokus pada teknik fisik, tetapi juga pembinaan akhlak, sebagaimana visi awal pendiriannya.

Kegiatan seperti latihan rutin, pengajian, dan acara sosial menjadi sarana untuk mempererat tali persaudaraan antaranggota.

Selain itu, Pagar Nusa di Nganjuk aktif dalam kegiatan keagamaan, seperti pembagian takjil saat Ramadan, serta menjaga kerukunan dengan perguruan silat lain melalui koordinasi dengan Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) setempat.

Pada masa awal, Pagar Nusa Nganjuk menghadapi tantangan seperti persaingan antarperguruan silat yang kadang memicu ketegangan.

Namun, melalui semangat ukhuwah yang ditekankan oleh NU, Pagar Nusa berhasil menjadi salah satu pilar dalam menjaga harmoni sosial di Nganjuk.

Perguruan ini juga melahirkan banyak atlet yang berprestasi di tingkat kabupaten hingga nasional, sekaligus berkontribusi dalam pelestarian budaya silat sebagai identitas lokal.

Sejajarah berdirinya Pagar Nusa di Nganjuk adalah cerminan dari komitmen NU untuk melestarikan pencak silat sebagai warisan budaya dan sarana pembinaan karakter.

Berawal dari musyawarah nasional pada 1985-1986, Pagar Nusa di Nganjuk tumbuh menjadi perguruan yang tidak hanya mengajarkan bela diri, tetapi juga memperkuat nilai-nilai persaudaraan dan keimanan.

Hingga kini, Pagar Nusa tetap menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Nganjuk, menjaga tradisi silat sambil berkontribusi pada keharmonisan sosial.

Editor : Ilmidza Amalia Nadzira
#pagar nusa #berita nganjuk hari ini #pencak silat #nganjuk #nu #sejarah