Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Mengintip Perayaan Imlek di Kelenteng Hok Yoe Kiong Sukomoro Nganjuk

Iqbal Syahroni • Senin, 12 Februari 2024 | 18:53 WIB

SAMBUT IMLEK 2.575 KONGZILI: Subastian memimpin sembahyang di Kelenteng Hok Yoe Kiong Sukomoro. Imlek tahun ini tidak ada pertunjukan barongsai di kelenteng.
SAMBUT IMLEK 2.575 KONGZILI: Subastian memimpin sembahyang di Kelenteng Hok Yoe Kiong Sukomoro. Imlek tahun ini tidak ada pertunjukan barongsai di kelenteng.


NGANJUK, JP Radar Nganjuk - Perayaan Imlek 2575 di Kelenteng Hok Yoe Kiong berbeda dibandingkan tahun lalu. Meski pandemi Covid-19 telah berakhir, tetapi tidak ada kerumunan massa di kelenteng. Tidak ada pertunjukan barongsai, kembang api dan ibadah massal seperti tahun sebelumnya.

Imlek identik dengan barongsai, liang-liong, kembang api. Namun hal ini tidak ada di Nganjuk. Ummat Tri Dharma Kelenteng Hok Yoe Kiong menyepakati untuk melakukan perayaan dengan sederhana karena menjelang pesta demokrasi.


Hal ini dilakukan berdasarkan kesepakatan dari pihak Kelenteng Hok Yoe Kiong, Sukomoro. Mereka hanya akan melakukan sembahyang seperti beberapa tahun sebelumnya. ”Kami imbau ibadah di rumah lebih baik. Tapi juga boleh ibadah di Kelenteng,” ujar Rohaniawan Kelenteng Hok Yoe Kiong Subastian Wuisan.


Mengapa? Bastian mengatakan, pihak kelenteng sepakat tidak mengadakan ibadah besar seperti tahun 2022. Karena mendekati masa tenang pemilihan umum (Pemilu) 2024. Memang dari tanggal masehi, Imlek jatuh pada 10 Februari, kemarin. Bersamaan dengan hari terakhir kampanye.


Jadi pada tahun Naga Kayu, lanjut Bastian, dipercaya oleh warga Tionghoa, yang akan meningkat adalah orang-orang yang berkecimpung di industri kreatif. Atau juga orang-orang yang terus “bergerak” untuk mencari tempat baru. Bastian mengatakan, Naga Kayu ini juga dianggap sebagai hewan yang agung, besar dan dinamis. Seperti yang dia jelaskan tadi.


Saat ditanya tentang pemilu 2024, dia meyakini bahwa siapapun pemimpin yang terpilih pasti akan dekat dengan rakyatnya. Sesuai dengan yang bergerak kreatif. “Kami juga berdoa agar terwujud. Siapa yang tidak mau memiliki pemimpin yang dinamis, baik, dan sangat dekat dengan rakyat,” ungkapnya.


Namun, Bastian mengatakan tak tahu siapa yang nanti akan menjadi pemimpin Bangsa Indonesia ke depannya. Dia hanya berharap siapapun yang terpilih tetap bisa mengayomi rakyat dengan lebih dekat, lebih baik.



Tidak Ada Job karena Masuk Masa Tenang


Imlek kemarin (10/2) memang tak digelar pertunjukkan barongsai atau liangliong di dua Klenteng di Kabupaten Nganjuk. Salah satu seniman barongsai asal Desa Kudu, Kecamatan Kertosono, Purnawan mengatakan pada saat perayaan Imlek Sabtu (10/2), tidak ada job untuk mengisi tahun baru.

“Tahun lalu, ada acara saya sama grup barongsai di Kelenteng Kertosono sini,” ujar lelaki yang rumahnya berjarak 100 meter dari Klenteng Poo San Kie Kertosono.


Purnawan mengatakan, tahun ini, tidak ada permintaan untuk penampilan barongsai di sana. Hal yang sama juga di Klenteng Hok Yoe Kiong Sukomoro. Dia hanya mendapat informasi, jika     saat perayaan Cap Go Meh nanti, diadakan pertunjukan barongsai. Namun hal tersebut juga belum tentu dilakukan. Purnawan mengatakan, jika tahun ini, umat Tri Dharma di Nganjuk tidak mengadakan perayaan Imlek 2575 secara besar-besaran. “Alasannya karena mendekati pemilu,” ungkap bapak dua anak itu.


Purnawan memakluminya. Mengingat, hari ini (11/1) sudah memasuki masa tenang. Sedangkan kemarin Sabtu (10/2). Dia merasa jika ada ketakutan gerakan politik praktis yang menunggangi di kegiatan ibadah umat Tionghoa di Kota Angin itu sendiri.


Namun, dia juga belum bisa menjanjikan jika perayaan Cap Go Meh juga akan memanggil dirinya dan kelompok barongsai yang dia bentuk bernama Naga Emas Kertosono. “Kalau katanya, mungkin biar suhu politik tidak memanas dulu,” ungkapnya.


Lelaki kelahiran 1981 itu juga mengamininya. Apakah sampai pemilu usai, akan terus berhenti? Purnawan mengatakan tidak. Sebenarnya, dia mendapatkan job untuk  barongsai tampil di Bali dan Mojokerto. “Total ada tiga, tapi saya tolak semua. Terlalu mepet, dan anggaran untuk berangkat ke luar kota  minim,” ujarnya.


Dalam tiga tahun terakhir, seniman Barongsai asal Kertosono itu mengaku sepi job akibat pandemi Covid-19. Mulai tahun 2020-2022, dia melewatkan dua kali kegiatan besar umat Tionghoa Kota Angin. Baru pada 2023, dia kembali mengisi kegiatan besar di Klenteng Poo San Sie Kertosono, dan saat acara Cap Go Meh di Kertosono.


“Di luar kegiatan yang melibatkan hari besar umat Tionghoa, paling ya seperti  bersih desa, atau menyambut pejabat,” ujarnya.

Untuk mendapatkan berita-berita terkini Jawa Pos Radar Kediri, silakan bergabung di Grup Telegram "Radar Kediri". Caranya klik link join telegramradarkediri. Sebelumnya, pastikan Anda sudah menginstal aplikasi Telegram di ponsel.

Editor : Redaksi Radar Nganjuk
#sukomoro #imlek #naga kayu