NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Kelurahan Kapas menjadi penghasil kapuk terbesar di Nganjuk saat masa penjajahan Belanda. Setelah merdeka, warga di desa tersebut memanfaatkan kapuk sebagai pendapatan. Mereka berjualan kapuk untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Desa Kapas ini memiliki pasar kapuk terbesar di Nganjuk,” kenang mantan Sekretaris Kelurahan Kapas, Dwi Suciono. Lokasi pasar kapuk terbesar itu ada di lingkungan Koripan. Di sana adalah pusat penjualan kapuk. Warga setempat akan membawa kapuk ke pasar. Kemudian, pembeli dari berbagai daerah berdatangan membeli kapuk untuk kasur, bantal, dan guling. “Pedagang dari luar Nganjuk seperti Madiun, Malang, Blitar, hingga Madura juga datang ke sini untuk menjual kapuk,” ungkapnya.
Ramainya pasar kapuk di Desa Kapas membuat warga menggantungkan hidup dengan berjualan kapuk. Begitu pula yang dialami Suciono. Usai lulus SMA, dia memutuskan untuk berdagang kapuk selama hampir 10 tahun. Sebelum akhirnya menjadi perangkat desa. “Dulu daripada menganggur, jadi ya ikut berjualan kapuk juga di pasar,” tuturnya.
Pasar kapuk itu ada setelah masa penjajahan Belanda. Karena hasil panen kapuk dari pohon-pohon randu itu sudah tidak ambil oleh orang Belanda, maka warga sendiri yang mengelola hasil panen kapuknya. “Karena dulu setiap rumah pasti punya pohon randu, jadi hasil panennya dijual dan diolah sendiri,” ujar Suciono.
Ada yang jual berupa kapuk. Namun, ada juga yang menjual dalam bentuk bantal, guling dan kasur. Sehingga selain menjadi pedagang kapuk, warga Desa Kapas dulunya juga rata-rata menjadi perajin kasur, guling dan bantal. “Memasuki tahun 2000, kapuk mulai ditinggalkan karena adanya kasur spon,” imbuhnya.
Kondisi itu membuat pasar kapuk saat ini sudah tidak ada lagi. Hanya beberapa warga yang masih bertahan menjadi perajin kasur, guling dan bantal. Seperti Kuswanto, 42, warga setempat. Dia mengaku melanjutkan usaha ayahnya. “Ini punya ayah saya, sekarang saya lanjutnya sebagai usaha sampingan,” ujar Kuswanto.
Editor : Redaksi Radar Nganjuk