Peninggalan prajurit Kerajaan Mataram di Desa Nglundo masih bisa dilihat sampai saat ini.Yaituy, sumur tua. Sumur itu dipercaya berusia ratusan tahun. Lokasinya berada di tengah sawah milik warga. Sayang, kemarin air di sumur tersebut mengering.
“Sumur ini dulunya sumber mata air satu-satunya di Desa Nglundo,” ujar ekretaris Desa Nglundo, Kecamatan Sukomoro Eko Fitri Pujiharto. Sejak zaman prajurit Mataram tinggal di sana, sumur tersebut digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Mulai dari minum, memasak, hingga mandi.
Karena itu, warga Desa Nglundo menganggap sumur itu sebagai sumur keramat. Setiap Kamis malam, warga akan membuat sesajen di sumur. Itu sebagai bentuk penghormatan kepada nenek moyang yang merupakan prajurit Mataram.
Di dekat sumur tua tumbuh pohon beringin. Sehingga, menambah suasana keramat bagi siapapun yang mendekati sumur itu. Sumurnya juga dikelilingi oleh pagar agar tidak digunakan kembali karena warga Nglundo sepakat untuk mempertahankan dan menjaga sumur peninggalan prajurit Mataram itu.
Namun seiring berjalannya waktu, warga mulai membuat sumur sendiri di rumahnya. Sehingga, sumur tersebut sudah tidak digunakan untuk kebutuhan sehari-hari. Meskipun airnya sampai saat ini masih mengalir. Kemudian, warga sepakat untuk menjadikan lokasi sumur untuk tempat bersih desa atau nyadran setiap tahunnya.
Nyadran dilakukan sebagai bentuk rasa syukur warga Nglundo kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena atas rezeki dari Tuhan, hasil bumi yang diberikan cukup selama setahun. Kemudian, nyadran juga bentuk penghormatan kepada para leluhur Desa Nglundo yakni para prajurit Mataram yang telah babat alas.
Editor : Redaksi Radar Nganjuk