NGANJUK, JP Radar Nganjuk - Tak banyak yang tahu kalau Kelurahan Cangkringan dulunya adalah bagian dari Kelurahan Kartoharjo. Dulu Kelurahan Kartoharjo dinamakan Dukuhan Bedug. Itu sebelum tahun 1963. Kemudian baru diresmikan menjadi Kelurahan Cangkringan pada 1998. Sejak dulu konon di Kelurahan Cangkringan saat nyadran harus ada iringan gamelan. Jika tidak, menurut kepercayaan masyarakat akan menyebabkan celaka.
Lurah Cangkringan Didik Indra Kurniawan mengatakan dulunya Kelurahan Cangkringan Bernama Dukuhan Bedug. Saat dibabat alas oleh Prajurit Mataram dulunya kelurahan ini masih milik Kelurahan Kartoharjo yang masih Bernama Dukuhan Bedug. “Namun pasca tahun 1963, Dukuhan Bedug pecah desa, dan Kelurahan Cangkringan akhirnya dinamakan Desa Cangkringan karena banyaknya pohon cangkring,” tuturnya.
Menurut Didik yang memberi nama Desa Cangkringan bukan para prajurit Mataram yang babat alas. Saat dibabat alas, Cangkringan masih bagian dari Dukuhan Bedug yang saat ini menjadi nama Kelurahan Kartoharjo. “Untuk itu saat ini masyarakat masih menghormati di perbatasan kadang diberi sesajen untuk para leluhur desa,” terangnya.
Seperti desa yang lain, Kelurahan Cangkringan juga punya ritual yang harus dilakukan saat selametan desa atau nyadran. Yakni harus ada iringan music gamelan. Jika tidak maka akan mengalami mala petaka. Seperti banyaknya orang sakit dan gagal panen. “Nyadran tiap tahun dilakukan di bulan Selo, harus ada musik gamelan, karena dulu pernah tidak diiringi gamelan banyak warga yang sakit dan panennya gagal,” tandasnya. (ica)
Editor : Redaksi Radar Nganjuk