Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Tradisi Jago-Jagoan Pernikahan di Kota Angin

Redaksi Radar Nganjuk • Senin, 16 Desember 2024 | 17:59 WIB

 

Photo
Photo

NGANJUK, JP Radar Nganjuk - Kabupaten Nganjuk memang kaya dengan tradisi yang unik. Seperti tradisi serah terima jago-jagoan. Bagi masyarakat Nganjuk yang percaya tradisi tersebut, tidak akan terjadi temu manten kalau ayam jago belum ditebus. Hal ini diartikan sang ayam jago adalah lambing dari laki laki yang akan mempersunting wanita.

Menurut tokoh sesepuh sekaligus dalang manten asal Kelurahan Kapas, Kecamatan Sukomoro, Nyamintoadi, tradisi serah terima jago-jagoan merupakan tradisi dan adat jawa yang sudah sejak turun temurun dari nenek moyang. Bahkan tak hanya dilakukan di Nganjuk. Namun dalam prosesinya biasanya berbeda-beda antar daerah.

“Medianya tetap sama yaitu memakai ayam jago, mulai dari ayam jago-jagoan hingga ayam jago beneran. Begitupun prosesi ritualnya juga cenderung berbeda antar daerah,” tuturnya.

Namun, umumnya bagi masyarakat Kota Angin, prosesi ayam jago-jagoan di pernikahan ini dilakukan sebelum prosesi temu manten mempelai pria dan wanita dipertemukan menuju pelaminan. Biasanya dilakukan oleh pengiring dari masing-masing mempelai. “Pengiring dari mempelai pria yang membawa ayam jago-jagoan, kemudian diberikan kepada salah satu pengiring dari mempelai wanita. Biasanya, sebelum diberikan, pengiring pria akan meminta imbalan, bisa berupa beras atau uang kepada pihak pengiring mempelai wanita yang ditunjuk sebagai orang yang menerima jago-jagoan,” terangnya.

Ayam jago yang digunakan pun bukan ayam jago hewan beneran melaikan hanya gambaran yang dahulu terbuat dari janur kuning dan sekarang sudah menggunakan kerangka kayu. Tradisi jago-jagoan yang jaman  dahulu menggunakan wujud boneka jago terbuat dari daun janur kuning yang diikat dan dibentuk sedemikian rupa sehingga mirip wujud ayam jago. “Namun sekarang berkembangnya jaman,  tradisi jago-jagoan menggunakan gambaran jago modern yang  dimana kerangka boneka sudah terbuat dari kayu dan menggunakan kain untuk menutupinya, kemudian ada ekor ayam jago yang menjuntai terbuat dari janur kuning,” tutur pria yang pernah menjadi honorer guru SD puluhan tahun itu. (ica)

 

Editor : Redaksi Radar Nganjuk