NGANJUK, JP Radar Nganjuk - Setiap desa dan kelurahan di Kota Angin selalu punya ciri khas masing-masing di acara bersih desa atau nyadran. Tak terkecuali di Kelurahan Begadung, Kecamatan Nganjuk. Saat nyadran, di sana wajib ada hiburan tayuban. Sehingga, warga selalu tayuban sejak ratusan tahun saat nyadran.
"Tayuban saat bersih desa itu agar tidak gagal panen," ujar Sekretaris Kelurahan Begadung Drajad Soerjatmoko. Dia mengatakan, warga Kelurahan Begadung setiap tahunnya wajib melakukan nyadran sebagai bentuk menghormati alam dan leluhur nenek moyang. Saat pelaksanaannya ada ritual yang wajib ada, yakni hiburan tayuban.
“Sebelum tayuban kami warga melakukan tahlilan terlebih dahulu, setelah itu hiburan dilakukan pada malam hari di kelurahan,” tuturnya.
Sebenarnya, nyadran di Kelurahan Begadung dilakukan dua kali. Pertama digelar di Lingkungan Sanggrahan. Kemudian selang satu minggu nyadran di kelurahan. Di Lingkungan Sanggrahan lokasinya di punden Makam Eyang Sentono Kaman Dowo. “Di sana dilakukan doa bersama,” imbuhnya.
Lebih lanjut, nyadran dilakukan di bulan besar atau tepatnya pada bulan hari Raya Idul Adha. Kemudian, nyadran di Lingkungan Sanggrahan harus dilakukan pada Jumat Pahing. Meskipun hiburan tayuban saat ini sudah jarang penikmatnya, namun kelurahan tetap wajib mengadakan tayuban. Warga yang bisa harus maju ke pentas untuk tayuban, termasuk lurah, perangkat kelurahan, Babinsa dan Bhabinkamtibmas. “Sebagai syarat saja, karena kalau tidak ya warga bisa gagal panen. Dan itu masih dipercaya hingga sekarang oleh warga,” terang Drajad.
Namun sebelum hiburan tayuban, warga terlebih dahulu melakukan tahlilan untuk ditujukan kepada leluhur yang babat alas Kelurahan Begadung. Kemudian, doa untuk leluhur keluarga masing-masing. (ica/tyo)