NGANJUK, JP Radar Nganjuk - Kelurahan Bogo tidak hanya terkenal dengan banteng yang mandi di Sungai Kedungbanteng. Namun, kelurahan ini juga dikenal memiliki banyak pohon bogo. Pohon ini yang membuat nama daerah tersebut dikenal Kelurahan Bogo.
Lurah Bogo Semianto mengatakan menurut penuturan para sesepuh, bahwa kelurahan ini dinamakan Bogo karena wilayahnya dahulu masih sepi. Kemudian sebagian wilayahnya adalah persawahan dan perkebunan yang terdapat banyak pohon bogo. “Sehingga wilayah ini dinamakan Desa Bogo dulu saat statusnya belum menjadi kelurahan,” ujarnya.
Namun seiring berjalannya waktu, pohon bogo yang dulunya tumbuh di wilayah Kelurahan Bogo itu sudah tidak ada lagi saat ini. Hal itu dikarenakan sudah mulai padat penduduk, apalagi wilayahnya berada di tengah kota. Pada saat masih menjadi desa, Bogo mempunyai tiga dusun, yaitu Bogo Kidul, Bogo Lor, dan Kedung Banteng.
Karena di wilayah Kelurahan Bogo ini sebagian wilayahnya adalah pertanian, maka di sana punya tradisi unik tersendiri. Yakni sebelum masa tanam baik tanam padi maupun jagung, masyarakat harus melakukan doa bersama di sawah. Tradisi itu diberi nama oleh masyarakat Kelurahan Bogo yakni Buka Bumi. Tujuannya agar hasil sawah nantinya melimpah saat panen raya.
“Kalau tidak ada doa bersama nanti hasil panen tidak maksimal bahkan bisa gagal panen,” ujar Semianto.
Termasuk di wilayah Lingkungan Kedung Banteng yang juga melakukan tradisi tersebut. Karena secara geografis, termasuk di wilayah Kelurahan Bogo. “Karena banyaknya sawah inilah, dulu masyarakat masih bajak sawah menggunakan kerbau dan sapi, kemudian dimandikan di sungai atau kedung,” tandasnya. (ica/tyo)