Berita Seputar Nganjuk Pendidikan Olahraga Opini Gaya Hidup Khazanah Seni & Budaya Video

Mengenal Nama Dusun dan Desa Unik di Kota Angin (75) Dua Cerita Berbeda Memunculkan Klurahan di Ngronggot

Redaksi Radar Nganjuk • Selasa, 7 Januari 2025 | 17:48 WIB

 

Photo
Photo

NGANJUK, JP Radar Nganjuk - Kabupaten Nganjuk memiliki desa yang memiliki nama unik. Desa tersebut bernama Desa Klurahan di Kecamatan Ngronggot. Usut punya usut, nama desa tersebut diambil dari sebuah peristiwa di masa lampau.

Salah satu desa di Kecamatan Ngronggot ini memiliki nama yang ambigu. Meski berstatus sebagai desa, namun masyarakat memanggilnya sebagai Klurahan. Ya benar, desa tersebut bernama Desa Klurahan.

Banyak sejarah yang menjelaskan asal-usul nama tersebut. Namun yang paling terkenal, nama Desa Klurahan diambil dari dua peristiwa yang benar-benar berbeda. Itu seperti yang diceritakan oleh Supriono, 50, sesepuh di desa tersebut. “Ceritanya berbeda. Namun ada dua yang paling terkenal,” ujarnya kepada wartawan koran ini.

Cerita pertama berlatar belakang sebelum tahun 1900-an. Saat itu, Ki Ageng Kampuh atau yang juga dikenal Mpu Sindok pernah menetap di desa tersebut. Hingga seiring berjalannya waktu, sebuah peradaban tumbuh di desa tersebut. Warga lalu memanggil desa itu dengan nama Desa Kampuh. Sesuai dengan orang yang mbabat alas di lokasi tersebut.

Saat itu Desa Kampuh atau kini Klurahan masih masuk ke Kecamatan Tanjunganom. Hingga setelah Indonesia merdeka, ada pemekaran wilayah. Munculah Kecamatan Ngronggot. Desa Kampuh lalu memilih untuk bergabung dengan Kecamatan Ngronggot. Hingga dibagi ke empat dusun. Yaitu Dusun Betet, Kaloran, Kalianyar, dan Klurahan.

Nama Klurahan sendiri diambil karena kepala desa (kades) atau lurah bertempat tinggal di dusun tersebut. Hingga kemudian Desa Kampuh dipecah lagi. Masing-masing dusun menjadi sebuah desa. Menghilangkan nama Desa Kampuh yang sebelumnya menaungi keempat dusun tersebut. “Dulunya Klurahan hanya nama dusun. Lalu berganti jadi nama desa,” ujar Supriono

Kisah tersebut menjadi kisah yang paling dipercaya oleh masyarakat. Namun ada cerita lain yang juga banyak dipercaya. Cerita kedua memiliki latar belakang yang lebih jauh dibanding cerita pertama.

Semuanya bermula dari peperangan yang terjadi di Keraton Jipang yang berada di Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Sepeninggal Arya Panangsang, banyak keluarga kerajaan yang mengungsi ke wilayah Jawa Timur. Salah satunya ke Kabupaten Nganjuk.

Salah satu keluarga tersebut bernama Dewi Amiswati. Saat berada di wilayah yang masih hutan itu, Dewi Amiswati tak sengaja menginjak kayu. Hingga membuat kakinya berdarah. Saat itu, Dewi Amiswati meminta pertolongan sesepuh bernama Ki Ageng Klurak. Dalam kalimat permintaan tolong itu, Dewi Amiswati menyebut kalimat mlurah-mlurah. Dalam Bahasa Indonesia, mlurah-mlurah artinya berdarah-darah.       

“Sejak saat itu daerah sini diberi nama Klurahan,” ujar Supriono. (wib/tyo)

Editor : Redaksi Radar Nganjuk