NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Air Terjun Sedudo yang berada di lereng Gunung Wilis, Kabupaten Nganjuk, menyimpan sejuta pesona. Keindahan alamnya menjadikan air terjun tertinggi ketiga di Jawa Timur itu menjadi ikon destinasi wisata Kota Angin.
Setiap tahun, ada tradisi bernama Siraman yang masih rutin digelar hingga saat ini. Prosesi mandi di bawah air terjun dipercaya bisa menjadikan awet muda. Namun tahukah Anda, ternyata wisata yang berlokasi di Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan ini memiliki sejarah panjang. Berikut kisah selengkapnya.
Cerita rakyat yang menyebar terkait kesucian Air Terjun Sedudo ini berkaitan dengan namanya. Menurut Kuwaluhan, nama ‘Sedudo’ dari Air Terjun Sedudo berarti seorang dudo (duda).
Dahulu kala, hidup suatu keluarga di Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk. Mereka ialah Begawan, Dewi Sri yang merupakan istrinya, dan Barata, adik iparnya. Masyarakat sekitar segan terhadap keluarga Begawan.
Bahkan, mereka dianggap sebagai panutan dan sesepuh di desa tersebut karena taat pada agama. Segudang ilmu agama telah dikuasainya, dan mereka pun senang membantu orang yang memerlukan.
Mereka gemar menolong dan berkorban demi kepentingan umum atau orang lain dalam keseharian mereka. Bahkan, mereka tak memikirkan kepentingan sendiri dan berpandangan, hidup ialah milik Allah dan akan kembali kepada-Nya.
Suatu ketika, seseorang dari mereka mulai berubah. Barata, sang adik ipar yang mulai sering melakukan hal tercela, mengabaikan orang yang membutuhkan, bahkan menghina mereka.
Melihat kelakuan Barata, Begawan sangat marah karena menganggapya tidak terpuji. Ia pun menasehati Barata dengan mengajaknya duduk berdua. Nahas, justru terjadi perang mulut antara keduanya yang berbeda pendapat.
Barata tampak tak lagi cocok dengan keluarga Begawan yang baik dan bijak. “Kalau memang demikian maumu, lebih baik kamu pergi dari rumah ini atau aku yang pergi. Kita tidak sejalan lagi.” kata Begawan.
Baca Juga: Ketua DPRD Tatit Dukung Siraman untuk Tarik Wisatawan, Air Terjun Sedudo Jadi Andalan Kota Angin
Barata pun setuju pergi dari kediaman Begawan. Sayangnya, istri Begawan, Dewi Sri, merasa begitu sedih akan kepergian sang adik yang hanya punya kakaknya itu. Ia pun memutuskan untuk mengembara mencari Barata usai memohon dan berdebat dengan Begawan.
Dewi Sri sendiri sempat kebingungan antara harus memilih berada di samping sang suami atau mencari sang adik. Namun, ia telah memutuskan mencari adik semata wayangnya.
Ditinggal Dewi, Begawan pun harus hidup sendiri sebagai seorang duda. Ia memutuskan untuk merenungi semua itu dan pergi membersihkan diri, memohon petunjuk kepada Allah dengan bertapa di bawah air terjun yang sangat tinggi, untuk selamanya.
Uniknya, Begawan selalu tampak sama dari waktu ke waktu, selalu terlihat muda, terutama di awal tahun baru Hijriah Muharam atau bulan Sura. Itulah sebabnya banyak orang yang berdatangan ke air terjun tersebut untuk mensucikan diri dan mencari berkah di sana.
Orang-orang percaya, siapa pun yang melakukan ritual dibawah air terjun itu akan mendapat berkah dan awet muda, terutama di awal tahun baru Hijriah atau bulan Sura. Hal ini juga menjadi asal nama sang air terjun yang dinamai ‘Sedudo’.
Editor : Redaksi Radar Nganjuk