JP Radar Nganjuk- Warga di dalam dan luar Kota Bayu perlu tahu ‘ciri kekhasan’ wilayah Kabupaten Nganjuk. Sebab, setiap wilayah pasti memiliki mitos atau kepercayaan yang dipegang teguh oleh masyarakatnya.
Seperti di wilayah Kecamatan Ngluyu yang terletak di batas utara Kabupaten Nganjuk dengan Kabupaten Bojonegoro. Di sana, banyak mitos-mitos yang turun-temurun dipercayai oleh masyarakat setempat.
Yang paling magis, misalnya, larangan memakai kain atau membawa benda motif batik parang rusak. Sebab, konon katanya, motif batik parang rusak merupakan motif sakral yang disukai oleh pembuka wilayah tersebut, yakni Mbah Gedong. Sehingga, untuk menghormati beliau motif itu dilarang digunakan oleh siapa pun yang mengunjungi wilayah tersebut.
Informasi yang berkembang di sana, jika ada seseorang melanggar mitos tersebut, akan mendapatkan musibah atau petaka, baik musibah personal maupun musibah untuk satu wilayah.
Seperti pernah terjadi, ketika ada orang yang melanggar larangan di wilayah Nganjuk Utara itu, imbasnya terjadi keganjilan fenomena alam.
Seperti hujan badai dadakan atau sebagainya. Usut punya usut, tidak lama pasca peristiwa pasti ada yang menyebarkan di grup WhatsApp tentang adanya orang yang memakai motif parang rusak masuk ke Kecamatan Ngluyu Nganjuk.
Seperti diketahui, secara historis, penamaan Kecamatan Ngluyu diyakini ada sejak dari zaman Kerajaan Mataram. Yakni saat terjadi perselisihan antara Bupati Pati dan Panembahan Senopati. Konon, dalam perselisihan itu menewaskan Bupati Pati, sehingga membuat seluruh pasukannya diboyong ke wilayah Mataram. Akan tetapi, terdapat sejumlah tawanan yang melarikan diri dan mencari tempat persinggahan baru. Tawanan yang melarikan diri tersebut memiliki satu pemimpin yakni Mbah Gedong (Pangeran Soromanundjoyo) yang tiba di wilayah Ngluyu.
Penamaan Ngluyu disinyalir disematkan oleh Mbah Gedong karena di wilayah tersebut beliau menemukan batu hitam yang diselimuti lumut dan air, sehingga membuatnya licin. Dalam bahasa Jawa, licin berarti lunyu, dan lama-kelamaan istilah tersebut diserap menjadi Ngluyu.
Wilayah Kecamatan Ngluyu berjarak sekitar 21 kilometer dari pusat Kabupaten Nganjuk. Jika Anda bertandang ke sana, harus melewati hutan-hutan. Tak heran daerah ini menjadi kecamatan tersepi di Nganjuk.
Melansir data BPS, di wilayah ini hanya terdapat 14,42 ribu jiwa dengan luas wilayah 86,15 kilometer persegi. Sehingga, wajar bila wilayah ini bisa dikatakan wilayah tersepi, sebab kepadatan penduduknya saja hanya 167,39 jiwa per kilometer persegi.
Mata pencaharian masyarakat setempat banyak bergantung dengan alam untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Mereka berprofesi di bidang agraria. Seperti petani palawija, petani padi, dan kini juga mulai berkembang petani bawang merah di sana.
Author : Endro Purwito
Editor : Ilmidza Amalia Nadzira